31.12.08

resensi buku: MENGUBAH TAKDIR (AGUS MUSTOFA)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembicaraan mengenai takdir tak pernah habis-habisnya. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan seputar masalah takdir. Seperti, apa itu takdir? Samakah takdir dengan nasib? Benarkah takdir bisa diubah? Bagaimana dengan masalah rezeki, musibah, dan jodoh, apakah itu termasuk takdir? Serta pertanyaan-pertanyaan lain yang sangat menggelitik akal dan logika kita.
Tak jarang pembahasan mengenai takdir selalu menyisakan misteri yang tak pernah tuntas. Ada suatu wilayah gelap perihal takdir yang sulit dipahami dan tak termakan oleh logika kita. Terutama mengenai kaitan antara kehendak dan takdir. Apakah kehendak merupakan takdir? Pertanyaan seperti itu sungguh filosofis, namun jawabannya penuh dengan misteri ilaihiah.
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, semuanya terdapat di dalam kitab Al Qur’an. Seperti firman Allah dalam surah Albaqarah ayat 185, yang artinya: “…Al Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu…”.

B. Indentifikasi

Buku Mengubah Tadir merupakan serial ke-7 diskusi tasawuf modern yang dikarang oleh Agus Mustofa. Agus Mustofa, yang lahir di Malang pada tanggal 16 Agustus 1963 ini sejak dari kecil sangat senang dengan filsafat seputar pemikiran tasawuf.
Selam masa kuliahnya di fakultas teknik, jurusan teknik nuklir, Universitas Gadjah Mada, beliau sering bertukar pikiran dengan ilmuwan-ilmuwan islam yang berpikiran modern, sehingga membuatnya memiliki pemikiran tentang tasawuf modern. Dan pemikiran-pemikirannya itu dituangkan lewat karya-karya cemerlang yang sangat menggugah.
Dalam bukunya yang berjudul Mengubah Takdir, Agus Mustofa dengan senang hati mengajak pikiran kita berkelana memahami ayat-ayat Allah SWT bersangkutan dengan masalah takdir. Secara cerdas, Agus Mustofa membuat kita berpikir betapa selama ini persepsi kita salah mengenai takdir. Dan tak lain tak bukan, semuanya merujuk kepada pemahaman yang benar mengenai takdir, yang dapat memotivasi hidup agar berjalan dengan baik.

C. Fokus Buku

1. Merenungi konsep takdir dan nasib
2. Beriman bukan sekedar percaya
3. Takdir sebagai produk dari mekanisme sebab-akibat
4. Takdir sebagai perpaduan qadar dan qadla
5. Kronologi terjadinya takdir
6. Lauh Mahfuzh
7. Aplikasi Takdir











BAB II
PEMBAHASAN
”MENGUBAH TAKDIR”
(Agus Mustofa)

A. Merenungi Konsep Takdir dan Nasib

Salah kaprah mengenai konsep takdir dan nasib telah menjadikan umat islam kontrsproduktif, dan itu terjadi secara turun-temurun selama ratusan tahun. Umat islam terjebak dalam kebingungan mengenai konsep hidup mereka sendiri, sehingga memunculkan perdebatan yang tak kunjung usai.
Banyak kalangan islam yang mengklaim bahwa manusia tidak memiliki peranan bebas dalam hal takdir. Namun, sementara itu mereka harus berhadapan dengan kerasnya perjuangan untuk hidup. Akhirnya mereka menemui kontradiasi, bingung dalam bersikap, dan sulit menentukan sikap. Mereka disini, dibagi menjadi beberapa golongan.
Diantaranya adalah orang-orang yang percaya sepenuhnya bahwa nasib manusia sepenuhnya telah ditentukan oleh Allah. Mereka tidak berusaha untuk meraih kebaikan-kebaikan dalam hidupnya. Dalam paham mereka, rezeki, jodoh, dan kematian telah ditetapkan sebelum mereka dilahirkan.
Takdir dan nasib merupakan dua hal yang mirip, namun tak sama. Konsep takdir memberi motivasi positif. Konsep takdir mengajarkan kepada umat manusia agar tegar, kreatif, produktif, dan dinamis dalam menyikapi kehidupan. Berbeda dengan konsep takdir, konsep nasib cenderung memberi motifasi negatif. ‘Nasib’ cenderung mendorong kita untuk bersikap pasrah, malas, kontarproduktif, dan statis.
Dalam ilmu psikologi, orang-orang yang pasrah dan berpegang pada konsep nasib termasuk pada golongan pribadi tipe B. Mereka yang berada pada tipe B ini adalah golongan orang yang penyabar dan mudah menerima kenyataan hidup separah dan sedahsyat apapun derita hidupnya. Orang-orang bertipe B sangat pintar dalam me-manage kondisi kejiwaannya. Mereka jarang stress dan jarang pula kecewa.
Namun, orang-orang dari tipe B tidak punya semangat untuk maju. Mereka termasuk golongan bertipikal pasrah pada keadaan. Cenderung ceroboh dalam bekerja. Standar kualitasnya rendah, dam mengarah pada ke-mandekan.
Selain tipe B, ada pula tipe A, yang cirri-cirinya berkebalikan dengan tipe B. Tipe A merupakan pribadi yang pantang menyerah dan pekerja keras. Namun sayangnya, mereka sering kali tidak mampu me-manage emosinya dengan baik. Sehingga, orang-orang dari golongan A berpotensi terserang penyakit kejiwaan.
Seorang muslim, hendaknya berada antara tipe A dan tipe B ini. Muslim yang bersemangat dalam bekerja, berkeinginan untuk maju, dengan standar kualitas yang tinggi. Muslim yang selalu tegar menghadapi setiap problematika kehidupan. Pantang mundur, dan pantang putus asa. Muslim yang penyabar, tidak mudah stress, dan tidak gampang kecewa.
Orang-orang yang beriman kepada takdir mestiny a dapat menyeimbangkan antara kenikmatan duniawi dengan kenikmatan ukhrawi secara simultan.
Seperti yang dijelaskan Allah SWT dalam Al Qur’an surah Al Baqarah ayat 112 yang artinya, “(tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

B. Beriman Bukan Sekedar Percaya

Beriman kepada takdir bukan hanya sekedar percaya begitu saja, melainkan dengan memahami maksudnya menggunakan akal pikiran kita.
Allah SWT berfirman dalam QS Yunus: 100 yang artinya,
“Dan tidak ada seorang pun akan beriman kepada Allah kecuali atas izin-Nya. Dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak menggunakan akalnya”.
Beriman adalah sebuah proses keyakinan secara aqli, yakni menggunakan potensi kecerdasan. Beriman disini termasuk kepada beriman kepada takdir. Kita harus paham terlebih dahulu tentang takdir. Barulah kemudian dengan sendirinya kita meyakini konsep tersebut.
Konsep takdir sengaja diperkenalkan oleh Allah dengan suatu tujuan tertentu. Yaitu untuk mendorong kehidupan kita agar sukses dunia dan akhirat. Lewat firman-Nya dalam surah Muhammad ayat 36 Allah dengan sangat jelas menerangkan bahwa sebenarnya hidup adalah permainan. Karena itu di dalamnya dikenal istilah ‘menang’ dan ‘kalah’.

C. Takdir sebagai Produk dari Mekanisme Sebab-akibat

Takdir tidak terjadi jika tidak ada proses yang mendahuluinya. Takdir merupakan akibat dari proses yang sudah terjadi. Dan jika dicermati memang begitulah Allah membuat sunatullah – hokum alam yang mengikat segala peristiwa.
Konsep sebab-akibat mengenai takdir bukanlah konsep sebab-akibat ala barat. Dimana konsep barat mengaggap hukum sebab-akibat sebagai mekanisme murni atas usaha mereka. Jika misalnya mereka gagal walaupun sudah berusaha mati-matian, mereka mencari kambing hitam dari kegagalan mereka, yang mereka sebut ‘faktor x’. mereka berhenti di sana, tidak memikirkan mengapa itu terjadi? Siapa yang berperan atas semua hasil yang mereka peroleh?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang tidak dapat termakan oleh logika konsep barat. Dan pertanyaan itu diselesaikan secara tuntas dalam konsep sebab-akibat di dalam Islam. Jawaban dari mengapa itu terjadi adalah karena ada kekuatan yang mengatur semuanya. Dan jawaban dari siapa yang berperan atas semua hasil yang mereka peroleh adalah Allah. Kekuatan itu adalah Allah SWT.
Yang sangat menarik dari hal ini adalah, bahwa ternyata Allah tidak sewenang-wenang dalam menentukan hasil itu. Allah melihat usaha kita, dan mendengar jerit tangis doa-doa kita. Lantas, barulah Allah memberikan ketetapan-Nya. Dan apa yang Allah putuskan adalah kehendak Allah, manusia tidak bisa menghalang-halangi sesuatu apapun jua. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam QS Ar Ra’d ayat 11.
Hukum sebab-akibat ini disimpulkan dalam bentuk segitiga sebab-akibat. Berikut disajikan model diagram segitiga sebab akibat.










Meskipun formulasi takdir berada di dalam bingkai hukum sebab-akibat, tidaklah mudah untuk memprediksi hasilnya. Karena takdir dipengaruhi oleh jutaan variable. Banyak hal-hal yang tak pernah disangka-sangka yang akan mempengaruhi hasil takdir yang kita terima. Variable-variabel tersebut akan bekerja membentuk resultan gaya.

D. Takdir sebagai Perpaduan Qadar dan Qadla

Qadar adalah ketetapan yang ditentukan sepenuhnya oleh Allah tanpa bisa diganngu-gugat oleh makhluk-Nya. Qadla adalah ketetapan Allah yang berdasarkan ras usaha tertentu. Dan takdir berada di tengah-tengahnya, yaaitu perpaduan antara qada dan qadla.
Allah menetapkan qadar pada seluruh makhluk ciptaan-Nya. Manusia diberi keleluasaan untuk mengubah qadar menjadi takdir yaitu lewat qadla, alias usaha.

E. Kronologi Terjadinya Takdir

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, bahwa takdir ditentukan oleh usaha manusia. Allah melihat usaha manusia, dan mendengar jerit tangis doa-doa kita. Lantas, barulah Allah memberikan ketetapan-Nya. Dan apa yang Allah putuskan adalah kehendak Allah, manusia tidak bisa menghalang-halangi sesuatu apapun jua.
Manusia berusaha dalam memperjuangkan takdirnya. Dan hasil yang berupa takdir itu sendiri ditentukan oleh Allah. Takdir manusia ditentukan seiring berjalannya waktu. Dengan kata lain, takdir tidak ditentukan sebelum kejadian, melainkan seiring dengan proses yang sedang berlangsung. Takdir yang dimaksud di sini adalah takdir terbaik (qadla), bukan takdir mendasar (qadar).
Kronologi terjadinya takdir adalah sebagai berikut.
1) Seluruh peristiwa di alam semesta terikat oleh waktu
2) Adanya relativitas waktu menyebabkan pergerakan waktu bisa berbeda-beda antara satu peristiwa dengan peristwa lainnya.
3) Sebelum alam semesta diciptakan, waktu belum berjalan. Namun, seluruh potensi peristiwa telah berada di dalam sebuah rumusan sunatullah. Seluruh cikal-bakal peristiwa telah termaktub dalam Lauh Mahfuz.
4) Ketika alam semesta div=ciptakan lewat ‘ledakan dahsyat’, seluruh parameter alam semesta berjalan, termasuk waktu. Itulah saat waktu = nol.
5) Seluruh peristiwa pun terikat oleh waktu: dulu, sekarang, nanti, dan kelak.
6) Takdir ditentukan oleh Allah seiring dengan urutan waktu yang berjalan. Takdir hari ini ditentukan berdasarkan kejadian-kejadian sebelumnya. Rakdir esok ditentukan oleh apa yang dilakukan hari ini.
7) Pemahamannya semakin kompleks ketika memasukkan factor relativitas waktu. Misalnya, ketika Allah menyatakan bahwa 1 hari malaikat = 50.000 tahun waktu manusia.
8) Semakin besar gap relativitas yang terjadi, maka waktu manusia seakan-akan menjadi demikin pendeknya, bagi sudut pandang yang berbeda.bagi Allah, waktu manusia = nol. Karena Allah meliputi seluruh waktu. Taktir dulu, sekarang, dan esok sudah diketahui semuanya.
9) Poin yang di atas itu lah yang memperjelas bahwa Allah Maha Mengetahui. Allah berada di seluruh waktu dan tempat secara bersamaan. Termasuk di sini takdir seseorang, yang oleh Allah sudah diketahui sejak dulu hingga nanti. Dari waktu nol sampai pada waktu tak hingga, atau sampai pad awaktu itu lenyap.
10) Manusia tidak berada pada semua waktu secara bersamaan. Manusia terikat oleh perjalanan waktu. Oleh karena itu lah manusia terikat oleh hukum sebab akibat seirung berjalannya waktu, dengan dipengaruhi ileh segala relativitasnya.
11) Bagi allah, seluruh waktu adalah ‘sekarang’.
12) Takdir ditetapkan oleh Allah sekali saja, yaitu sekarang, lewat kalimat kun fayakun. Dan kemudian terurai dalam skala waktu mengikuti hukum sebab-akibat.
13) Takdir pun terurai lewat sebuah formula kompleks mengikuti model-model statistik multi variable. Dan hasilnya pun multialternatif. Dengan kata lain, faktor-faktor penyebab takdir itu berjumlah tak berhingga. Hasilnya pun memiliki kemungkinan yang tak berhingga.

Takdir tidak bersifat final. Seperti yang dijelaskan Allah dalam QS Faathir ayat 45, takdir bersifat final jika seseorang telah mencapai ajalnya. Selama masih hidup, seseorang itu hanya memperoleh takdir sementara, yang sewaktu-waktu bisa berubah.



F. Lauh Mahfuzh

Hal yang seringkali menjebak pemahaman umat islam perihal takdir adalah tentang Lauh Mahfuz. Karena ada ayat-ayat dalam Al Qur’an menginformasikan bahwa takdir sudah termaktub di dalam kitab induk tersebut sebelum diciptakan. Ayat-ayat itu sering dijadikan dasar oleh sebagian umat islam, dan mengatakan bahwa Alla htelah menetapkan seluruh takdir manusia sebelum terlahir ke dunia, sehingga manusia tidak dapat sedikit pun megubah takdirnya.
Pandangan seperti itu sungguh salah sekali. Karena Lauh Mahfuz adalah kitab yang terjadi di alam semesta. Di dalamnya sudah termaktub sesuatu yang disebut qadar (ketetapan Allah). Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, takdir manusia berada dia antara qadar dan qadla.
Dalam Al Qur’an surah An Nahl ayat 61 disebutkan bahwa justru Rahman dan Rahim Allah sangat dominan dalam menentukan takdir. Allah bahkan menangguhkan azab bagi orang-orang yang zalim. Tapi, penangguhan azab itu sebenarnya juga menyebabkan bertumpuknya akibat. Sehingga, ketika azab itu dating, menjadi demikian parah dan dahsyatnya.
Lauh Mahfuz adalah kitab yang berisi segala kemungkinan peristiwa yang terjadi di alam semesta. Takdir manusia ditetapkan sebagai modus yang tak mungkin terjadi. Bukan peristiwa mutlaknya. Bukan pula panjang-pendeknya waktu.

G. Aplikasi Takdir

1. Kehendak dan takdir

Pertanyaan yang paling mendasar dalam pengaplikasian takdir adalah: apakah kita memiliki kebebasan dalam menentukan sikap apa saja sebagai jalan kehiudpan kita? Apakah kehendak kita juga merupakan takdir Allah?
Pada kenyataannya manusia memiliki kehendak bebas sebebas-bebasnya. Kita bisa memilih apa yang kita mau. Dalam Al Qur’an pun dijelaskan mengenai hal ini. Seperti yang terdapat dalam surah Al Mudatsir ayat 37-38 yang artinya:
“(yaitu) bagi siapa saja di antara kamu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”.
Kehendak adalah sifat dasar manusia, yang fitrah ditetapkan Allah lewat qadar-Nya. Sebagaimana Allah Maha Berkehendak, manusia pun memiliki kehendak bebas, walau dalam skala yang terbatas.
Namun kita juga tidak boleh berkehendak mengikuti hafa nafsu yang bertentang dengan ajaran agama, karena hawa nafsu sangat menjerumuskan. Di dalam Al Qur’an surah Al Maaidah ayat 49 Allah dengan sangat jelas memelarang kita mengikuti hawa nafsu dalam memutuskan perkara. Dan jika Allah mengkehendaki maka Allah akan menimpakan musibah kepada kita disebabkan apa yang telah dilakukan sebelumnya. Allah .

2. Dampak Perbuatan

Allah sangat tegas meberikan gambaran bahwa pilihan apa saja yang kita ambil dalam kehidupan ini dampaknya akan kembali kepada kita sendiri. Segala kebaikan yang kita lakukan akan menghasilkan kebaikan kepada diri kita. Sebaliknya, segala keburukan yang kita kerjaka, keburukan pula yang akhirnya menimpa kita.
Mengenai hal ini, Allah SWT berfirman dalam QS Al Baqarah : 286 yang artinya,
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari apa yang diusahakannya dan ia mendapat siksa dari apa yang dikerjakannya…”



3. Pantang Menyerah

Konsep takdir mengandung maksud untuk memotivasi agar kita gigih, pantang menyerah, dan tidak putus asa. Tentang hal ini secara jelas Allah berfirman dalam QS Ali Imran: 146, yang artinya,
“Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak pula lesu dan tidak meyerah. Allah menyukai orang-orang yang sabar”.

4. Tawakal dan Berserah Diri

Poin puncak dan sangat penting dalam pengaplikasian takdir adalah bertawakal kepada Allah. Bertawakal berarti berserah diri kepada Allah setelah melakukan usaha keras dan sungguh-sungguh. Bertawakal juga berarti mengedepankan peranan Allah dalam mencapai takdir.
Tawakal memiliki dua fungsi, yaitu:
 Sebagai media ‘bernegosiasi’ dengan Allah dan sebagai pengakuan bahwa takdir adalah wilayah kekuasaan-Nya. Karena itu seluruh proses penetapan takdir kita serahkan kepada Allah. Tentu saja setelah kita melakukan usaha seoptimal mungkin.
 Menghindarkan diri dari kesedihan yang berlebihan dan putus asa. Orang yang bertawakal kepada Allah akan tenang hatinya, tidak gelisah ataupun khawatir, dan jarang bersedih. Hal ini dikarenankan mereka bersandar kepada Allah Yang Maha Kuasa. Dia yakin Allah akan memberikan yang terbaik untuknya. Karena Allah adalah zat yang Maha Pemurah, Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana.
Mengenai tawakal Allah berfirman dalam QS Al Anfaal: 49 yang artinya,
“…(Allah berfirman):’barang siapa yang tawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.



























BAB III
ANALISIS BUKU


A. Merenungi Konsep Takdir dan Nasib

Dalam poin ini, Agus Mustofa mengajak kita untuk merenungi kembali apa sebenarnya konsep takdir dan nasib. Apakah keduanya sama? Atau kah berbeda? Dengan kata-kata yang mudah dimengerti, Agus Mustofa menjelaskan bahwa takdir dan nasib merupakan dua hal yang mirip, namun tak sama.
Beliau juga menambahkan pembagian tipe manusia dalam menyikapi takdir dilihat dari sudut pandang psikologi. beliau tidak hanya merujuk pada satu sudut pandang saja. Dengan menggunakan contoh-contoh, poin ini semakin menarik untuk dibaca, dan semakin memperkuat pemahaman kita mengenai konsep takdir dan nasib.

B. Beriman Bukan Sekedar Percaya

Beriman kepada takdir bukan hanya sekedar percaya begitu saja, melainkan dengan memahami maksudnya menggunakan akal pikiran kita. Konsep seperti ini sudah sejak dari kecil diajarkan kepada kita. Namun tidak sedikit dari kita, umat islam yang benar-benar paham konsep beriman yang sesungguhnya.
Dalam poin ini Agus dengan cerdas meluruskan kekeliruan perihal konsep iman. Dengan merujuk pada ayat-ayat, poin ini semakin mudah dipahami dan menghapus kekeliruan yang selama ini merusak konsep iman itu sendiri.

C. Takdir Sebagai produk dari Mekanisme Sebab-akibat

Poin ini menjelaskan bahwa takdir sebenarnya adalah sebuah hasil dari mekanisme sebab-akibat. Agus menganalogikannya dengan ilmu fisika, bahwa ada hubunga sebab akibat antara usaha, ketentuan Allah, dan takdir. Namun sayangnya, Agus menggunakan istilah-istilah fisika yang berlebihan. Agus membuat konsepnya sendiri perihal takdir. Istilah seperti resultan gaya yang dipakai Agus dalam poin ini bukannya membantu pemahaman pembaca, malah semakin membingungkan pembaca, terutama bagi pembaca yang masih awam mengenai ilmu fisika.
Pada dasarnya konsep yang ia kemukakan benar adanya, namun Agus lupa bahwa tidak semua pembaca mengerti dengan istilah-istilah yang ia gunakan, terlebih lagi jika istilah-istilah tersebut tidak diperjelas artinya. Di poin ini pun, Agus terkesan kesulitan mencari analogi-analogi untuk menjelaskan teorinya.

D. Takdir sebagai Perpaduan Qadar dan Qadla

Isi dari poin ini sesungguhnya adalah perluasan dari poin sebelumnya. Namun bedanya, poin ini menilik dari sudut pandang agama. Jika poin di atas agus membuat konsep sendiri dengan menggunakan analogi fisika, poin ini lebih menggunakan konsep-konsep dalam agama kita yang sudah ada. Poin ini dilengkapi dengan ayat-ayat yang semakin mempermudah pemahaman pembaca.

E. Kronologi Terjadinya Takdir

Di awalnya, Agus Mustofa menggunakan contoh dalam menjelaskan poin kronologi terjadinya takdir ini. Tak lupa dengan ayat-ayat Al Qur’an, Agus mengajak kita untuk memahami semuanya. Namun sebenarnya, pembahasan seperti ini sudah dibahas dalam poin-poin sebelumnya, bahwa manusia berusaha, Allah menentukan, lalu terjadilah takdir. Agus seolah bertele-tele dalam menjelaskan masalah takdir tersebut. Pada akhir poin, Agus memasukkan kronologi terjadinya takdir yang telah ia poin-poinkan, yang membuat pembaca mudah memahaminya. Namun sayangnya, Agus tidak menyebutkan apa acuan ia menyusun kronologi yang seperti itu. Tidak ada ayat-ayat Al Qur’an yang ia singgung dalam poin-poin tersebut. Hal ini tentunya membuat rancu pemahaman kita. Lalu berbagai pertanyaan pun muncul : Apakah benar begitu? Mengapa bisa begitu? Bagaimana logikanya? Dari mana sumbernya? Dan tentu saja, pertanyaan-pertanyaan tadi tak menemukan jawaban dari poin ini. Pun dari poin-poin lain yang ada dalam buku Mengubah Takdir yang ia tulis.

F. Lauh Mahfuz

Dalam penulisannya Agus memcoba membuat kita paham akan Lauh Mahfuz dengan cara mengkaji ayat-ayat Al Qur’an. Dengan cerdas Agus mengambil makna-makna dari berbagai ayat Al Qur’an untuk menjawab pertanyaan mengenai Lauh Mahfuz.

G. Aplikasi Takdir

Poin ini menjelaskan tentang bagaimana tentang penerapan tkdir dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya poin ini pembaca dapat mnghalau segala ragu perihal pemahaman kita mengenai takdir.
Sub poin terpenting dari poin ini adalah bahwa dalam penetapan takdir – baik maupun buruk – Allah terlebih dahulu melihat apa yang kita perbuat. Allah tidak begitu saja menimpakan musibah jika manusia tidak berlaku menyalahi aturan agama. Yang kedua adalah, bahwa dampak dari usaha atau peerbuatan manusia – baik maupun buruk – pasti akan terjadi. Jika tidak sekarang, berarti nanti. Yang ketiga adalah kita harus gigih dalam mengejar takdir, jangan menyerah da putus asa. Yang keempat adalah bertawakal dan berserah diri kepada Allah. Jika kita sudah berusaha, maka yang harus dilakukakan selanjutnya adalam mnyerahkan semuanya kepada Allah. Allah akan memberi keputusan atas apa yang telah kita usahakan.



H. Kesimpulan

Takdir manusia tidak terjadi dengan sendirinya. Ada yang menentukan semuanya. Semuanya terjadi dalam suatu scenario raksasa yang dikendalikan sepenuhnya oleh Allah. Namun demikian Allah yang Maha Pemurah sangat menghargai usaha manusia. Namun, dengan keterbatasannya, manusia tidak mampu sepenuhnya mewujudkan takdir yang ia inginkan. Keputusan dan ketetapan Allah lah yang berlaku pada akhirnya.
Allah menetapkan qadar sebagai ketetapan. Termasuk di dalamnya rezeki, jodoh, dan kematian. Bahkan itu adalah qadar yang harus dipadukan dengan qadla untuk menghasilkan takdir terbaik kita kelak.
Takdir manusia sebenarnya bisa diubah. Allah memberikan peluang besar kepada manusia untuk meraih takdir terbaiknya, lewat usaha yang keras, doa yang tulus, sabar, dan bertawakal kepada Allah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komentar