26.8.09

Masturbasi... hmmm...

oleh : Lasyitha Anindiya

Istilah masturbasi berasal dari kata latin “manasturbo” yang berarti rabaan atau gesekan dengan tangan (manu). Masturbasi secara umum didefenisikan sebagai rangsangan disengaja yang dilakukan pada organ genital untuk memperoleh kenikmatan dan kepuasan seksual. Namun pada kenyataannya, banyak cara untuk mendapatkan kepuasaan diri (self-gratification) tanpa mempergunakan tangan (frictionless masturbation), sehingga istilah masturbasi menjadi kurang mengena. Oleh karena itu, istilah “autoerotism” adalah istilah yang lebih mengena untuk menggambarkan fenomena ini.

Ada beberapa istilah masturbasi yang dikenal di masyarakat, antara lain onani atau rancap, yang berarti melakukan suatu rangsangan organ seks sendiri dengan cara menggesek-gesekkan tangan atau benda lain ke organ genital kita hingga mengeluarkan sperma dan mencapai orgasme. Dalam ajaran Islam, masturbasi dikenal dengan nama ; al-istimna', al-istima'bilkaff, nikah al-yad, al-I'timar, atau 'adtus sirriyah. Sedangkan masturbasi yang dilakukan oleh wanita disebut al-ilthaf.

Di masyarakat istilah onani lebih dikenal. Sebutan ini, menurut berbagai ulasan yang ditulis Prof. Dr. Dr. Wimpie Pangkahila Sp, And, Ketua Pusat Studi Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, berasal dari nama seorang laki-laki, Onan, seperti dikisahkan dalam Kitab Perjanjian Lama Tersebutlah di dalam Kitab Kejadian pasal 38, Onan disuruh ayahnya, Yehuda, mengawini isteri almarhum kakaknya agar kakaknya mempunyai keturunan. Onan keberatan, karena anak yang akan lahir dianggap keturunan kakaknya. Maka Onan menumpahkan spermanya di luar tubuh janda itu setiap berhubungan seksual (coitus interruptus). Dengan cara yang kini disebut sanggama terputus itu, janda kakaknya tidak hamil. Namun akibatnya mengerikan. Tuhan murka dan Onan mati.

Onani atau masturbasi dalam pengertian sekarang bukanlah seperti yang dilakukan Onan. Masturbasi berarti mencari kepuasan seksual dengan rangsangan oleh diri sendiri (autoerotism), dan dapat pula berarti menerima dan memberikan rangsangan seksual pada kelamin untuk saling mencapai kepuasan seksual (mutual masturbation). Yang pasti pada masturbasi tidak terjadi hubungan seksual, tapi dapat dicapai orgasme. Freud (1957) mengatakan ada 3 fase dari masturbasi, yaitu (1) pada bayi; (2) pada fase perkembangan yang paling tinggi dari perkembangan seksual infantile yaitu pada kisaran umur 4 tahun, dan (3) pada fase pubertas. Menurut Freud, naluri seksual sudah terdapat pada permulaan kehidupan dan berkembang secara progressif sampai umur 4 tahun. Setelah ini berhenti maka tidak ada lagi perkembangan berikutnya (masa laten) sampai tiba saatnya masa pubertas pada kisaran umur 11 tahun.

Tujuan utama masturbasi adalah mencari kepuasan atau melepas keinginan nafsu seksual dengan jalan tanpa bersenggama. Akan tetapi masturbasi tidak dapat memberikan kepuasan yang sebenarnya. Berbeda dengan bersenggama yang dilakukan oleh dua orang yang berlawanan jenis. Mereka mengalami kesenangan, kebahagiaan, dan keasyikan bersama. Pada senggama, rangsangan tidak begitu perlu dibangkitkan secara tiruan, karena hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan merupakan suatu hal yang alami. Dalam masturbasi satu-satunya sumber rangsangan adalah khayalan diri sendiri. Itulah yang menciptakan suatu gambaran erotis dalam pikiran. Masturbasi merupakan rangsangan yang sifatnya lokal pada anggota kelamin. Hubungan seks yang normal dapat menimbulkan rasa bahagia dan gembira, sedangkan masturbasi malah menciptakan depresi emosional dan psikologis.

Beberapa tahun terakhir ini, para dokter mulai meyakini bahwa kegiatan masturbasi ternyata tidak memberi efek buruk bagi pelakunya. Pandangan ini tentu saja tidak begitu saja muncul.

Sejarahnya begini. Pada abad 18 dan 19, ada pandangan yang menyatakan bahwa masturbasi terkait dengan menurunnya kemampuan tubuh secara umum. Masturbasi juga dikatakan menurunkan daya penglihatan, mengganggu sistem saraf, dan sebagainya.

Alex McKay, koordinator riset pada Sex Information and Education Council, Kanada memberi komentar bahwa banyak orang merasa bersalah gara-gara melakukan masturbasi: "Alasannya, seks itu harus dilakukan demi reproduksi dan masturbasi melenceng dari tujuan itu...memang ada perbedaan pandangan di antara para profesional dari berbagai disiplin mengenai masturbasi."

Dan memang benar, ada psikolog yang mengatakan bahwa masturbasi itu bentuk egoisme. Sementara ahli yang lain mengatakan, masturbasi itu tidak sesuai dengan ajaran agama. Sex terapis Bill dan Carolyn Chernenkoff justru menyarankan stimulasi/rangsangan pribadi atau berpasangan ini.

Mereka bilang "Tidak ada yang lebih baik terutama bagi anak-anak muda untuk melakukan masturbasi saat hormon mereka mulai berkembang.Biasanya hal ini bakal mencegah mereka untuk melakukan aktivitas seksual yang justru dilarang dan mencegah kehamilan tak dikehendaki."

Tentu saja, kata mereka, bagi pasangan yang sudah menikah, kegiatan ini bermanfaat. Terutama bagi mereka yang sedang berjauhan dari pasangan karena masalah tertentu karena pekerjaan misalnya.

Berikut beberapa manfaat masturbasi:
- Merangsang kemampuan fantasi
- Membuat seseorang menjadi makin nyaman dengan seksualitas mereka.
- Bakal luar biasa bila dilakukan bersama pasangan
- Membantu kita memahami reaksi-reaksi tubuh sendiri yang berguna bagi kegiatan seksual bersama pasangan
- Memelihara aliran darah di pelvic dan memperkuat otot kelamin.
- Membantu melepas stres
- Kadang-kadang dapat melepaskan ketegangan bagi wanita yang sedang mengalami menstruasi
- Yang jelas tidak menyebabkan kehamilan, aman.
- Gairah seksual yang menggelegak dan berlangsung lama pada pria biasanya menyebabkan nyeri yang biasa disebut "blue balls". Karena itu masturbasi membantu melepaskannya.

Sebaliknya, ada beberapa masalah yang bisa timbul gara-gara masturbasi, antara lain:
- Bagi para lelaki, keseringan masturbasi menyebabkan abrasi kulit. Dapat diatasi dengan menggunakan pelicin atau pelumas seperti jeli
- Tentu saja menghabiskan waktu. Beberapa anak muda bahkan melakukan masturbasi beberapa kali sehari.

27.5.09

PSIKOLOGI DAN ISLAM

OLEH: LASYITHA ANINDIYA

Psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu terbilang berusia muda. Ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental itu diklaim Barat baru muncul pada tahun 1879 M -- ketika Wilhelm Wundt mendirikan laboratorium pertamanya di Leipzig. Padahal, jauh sebelum itu peradaban manusia dari zaman ke zaman telah menaruh perhatian pada masalah-masalah psikologi.

Peradaban manusia kuno di Mesir, Yunani, Cina, dan India telah memikirkan tentang ilmu yang mempelajari manusia dalam kurun waktu bersamaan. Kebudayaan kuno itu juga telah memikirkan tentang sifat pikiran, jiwa, ruh, dan sebagainya. Masyarakat Mesir Kuno dalam catatan yang tertulis pada papirus bertarik 1550 SM telah mencoba mendeskripsikan tentang otak dan beberapa spekulasi mengenai fungsinya.

Selain itu, filsuf Yunani Kuno, Thales, juga telah mengelaborasi apa yang disebut sebagai psuch atau jiwa. Pemikir lainnya dari peradaban Yunani Kuno seperti Plato, Pythagoras, dan Aristoteles juga turut mendedikasikan diri mereka untuk mempelajari dan mengembangkan dasar-dasar psikologi. Sejak abad ke-6 M, peradaban Cina telah mengembangkan tes kemampuan sebagai bagian dari sistem pendidikan.

Lalu bagaimana peradaban Islam berperan dalam mengembangkan psikologi? Sebenarnya. jauh sebelum Barat mendeklarasikan berdirinya disiplin ilmu psikologi di abad ke-19 M, di era keemasannya para psikolog dan dokter Muslim telah turut mengembangkan psikologi dengan membangun klinik yang kini dikenal sebagai rumah sakit psikiatris.

Di era kekhalifahan, psikologi berkembang beriringan dengan pesatnya pencapaian dalam ilmu kedokteran. Pada masa kejayaannya, para psikolog Muslim telah mengembangkan Psikologi Islam atau Ilm-Al Nafsiat. Psikologi yang berhubungan dengan studi nafs atau jiwa itu mengkaji dan mempelajari manusia melalui qalb (jantung), ruh, aql (intelektual), dan iradah (kehendak).

Kontribusi para psikolog Muslim dalam mengembangkan dan mengkaji psikologi begitu sangat bernilai. Sejarah mencatat, sarjana Muslim terkemuka, Al-Kindi, merupakan psikolog Muslim pertama yang mencoba menerapkan terapi musik. Psikolog Muslim lainnya, Ali ibn Sahl Rabban Al-Tabari, juga diakui dunia sebagai orang pertama yang menerapkan psikoterapi atau 'al-`ilaj al-nafs'.

Psikolog Muslim di era kejayaan, Ahmed ibnu Sahl Al-Balkhi, merupakan sarjana pertama yang memperkenalkan konsep kesehatan spiritual atau al-tibb al-ruhani dan ilmu kesehatan mental. Al-Balkhi diyakini sebagai psikolog medis dan kognitif pertama yang secara jelas membedakan antara neuroses dan psychoses untuk mengklasifikasi gangguan penyakit syaraf.

Melalui kajian yang dilakukannya, Al-Balkhi, juga mencoba untuk menunjukkan secara detail bagaimana terapi rasional dan spiritual kognitif dapat digunakan untuk memperlakukan setiap kategori penyakit. Pencapaian yang berhasil ditorehkan Al-Balkhi pada abad pertengahan itu terbilang begitu gemilang.

Sumbangan yang tak kalah pentingnya terhadap studi psikologi juga diberikan oleh Al-Razi. Rhazes - begitu orang Barat menyebut Al-Razi - telah menorehkan kemajuan yang begitu signifikan dalam psikiatri. Melalui kitab yang ditulisnya yakni El-Mansuri dan Al-Hawi, Al-Razi mengungkapkan definisi symptoms (gejala) dan perawatannya untuk menangani sakit mental dan masalah-masalah yang berhubungan dengan kesehatan mental.

Al-Razi juga tercatat sebagai psikolog pertama yang membuka ruang psikiatri di sebuah rumah sakit di Kota Baghdad. Pada saat yang sama, Barat belum mengenal dan menerapkan hal serupa, sebab waktu itu Eropa berada dalam era kegelapan. Apa yang telah dilakukan Al-Razi di masa kekhalifahan Abbasiyah itu kini diterapkan di setiap rumah sakit.

Pemikir Muslim lainnya di masa keemasan Islam yang turut menyumbangkan pemikirannya untuk mengembangkan psikologi adalah Al-Farabi. Ilmuwan termasyhur ini secara khusus menulis risalah terkait psikologi sosial dan berhubungan dengan studi kesadaran. Dari Andalusia, dokter bedah terkemuka, Al-Zahrawi, alias Abulcasis mempelopori bedah syaraf.

Selain itu, Ibnu Zuhr, alias Avenzoar tercatat sebagai psikolog Muslim pertama yang mencetuskan deskripsi tentang penyakit syaraf secara akurat. Ibnu Zuhr juga telah memberi sumbangan yang berarti bagi neuropharmakology modern. Yang tak kalah penting lagi, Ibnu Rusyd atau Averroes -- ilmuwan Muslim termasyhur - telah mencetuskan adanya penyakit Parkinson's.

Ali ibnu Abbas Al-Majusi, psikolog Muslim lainnya di masa kejayaan turut menyumbangkan pemikirannya bagi studi psikologi. Ia merupakan psikolog yang menghubungkan antara peristiwa-peristiwa psikologis tertentu dengan perubahan psikologis dalam tubuh. Ilmuwan besar Muslim lainnya, Ibnu Sina, alias Avicenna dalam kitabnya yang fenomenal Canon of Medicine juga mengupas masalah neuropsikiatri. Ibnu Sina menjelaskan pendapatnya tentang kesadaran diri atau self-awareness.

Sementara itu, Ibnu Al-Haitham alias Alhazen lewat kitabnya yang terkenal Book of Optics dianggap telah menerapkan psikologi eksperimental, yakni psikologi persepsi visual. Dialah ilmuwan pertama yang mengajukan argumen bahwa penglihatan terjadi di otak, dibandingkan di mata. Al-Haitham mengesakan bahwa pengalaman seseorang memiliki efek pada apa yang dilihat dan bagaimana seseorang melihat.

Menurut Al-Haitham, penglihatan dan persepsi adalah subjektif. Al-Haitham juga adalah ilmuwan pertama yang menggabungkan fisika dengan psikologi sehingga terbentuklah psychophysics. Melalui percobaan yang dilakukannya dalam studi psikologi, Al-Haitham banyak mengupas tentang persepsi visual termasuk sensasi, variasi, dalam sensitivitas, sensasi rabaan, persepsi warna, serta persepsi kegelapan.

Sejarawan psikologi, Francis Bacon menyebut Al-Haitham sebagai ilmuwan yang meletakkan dasar-dasar psychophysics dan psikologi eksperimental. Berdasarkan hasil penelusuran yang dilakukannya, Bacon merasa yakin bahwa Al-Haitham adalah sarjana pertama yang berhasil menggabungkan fisika dengan psikologi, dibandingkan Fechner yang baru menulis Elements of Psychophysics pada tahun 1860 M.

Bacon juga mengakui Al-Haitham sebagai pendiri psikologi eksperimental. Dia mencetuskan teori besar itu pada awal abad ke-11 M. Selain itu, dunia juga mengakui Al-Biruni sebagai salah seorang perintis psikologi eksperimental lewat konsep reaksi waktu yang dicetuskannya. Sayangnya, sumbangan yang besar dari para ilmuwan Muslim terhadap studi psikologi itu seakan tak pernah tenggelam ditelan zaman.

Rumah Sakit Jiwa Pertama di Dunia
Umat Muslim di era keemasan kembali membuktikan bahwa Islam adalah pelopor peradaban. Sepuluh abad sebelum masyarakat Barat memiliki rumah sakit jiwa untuk mengobati orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan, umat Muslim di kota Baghdad pada tahun 705 M sudah mendirikannya. Rumah sakit jiwa atau insane asylums mulai didirikan para dokter dan psikolog Islam pada masa kekhalifahan.

Tak lama setelah itu, di awal abad ke-8 M peradaban Muslim di kota Fes juga telah memiliki rumah sakit jiwa. Rumah sakit jiwa juga sudah berdiri di kota Kairo pada tahun 800 M. Setelah itu pada tahun 1270 M, kota Damaskus dan Aleppo juga mulai memiliki rumah sakit jiwa. Rumah sakit jiwa itu dibangun para dokter dan psikolog sebagai tempat untuk merawat pasien yang mengalami beragam gangguan kejiwaan.

Sementara itu, Inggris - negara terkemuka di Eropa -- baru membuka rumah sakit jiwa pada tahun 1831 M. Rumah sakit jiwa pertama di Inggris itu adalah Middlesex County Asylum yang terletak di Hanwell sebelah barat London. Pemerintah Inggris membuka rumah sakit jiwa setelah mendapat desakan dari Middlesex County Court Judges. Setelah itu Inggris mengeluarkan Madhouse Act 1828 M.

Psikolog Muslim di abad ke-10 M, Ahmed ibnu Sahl Al-Balkhi, (850 M - 934 M) telah mencetuskan gangguan atau penyakit yang berhubungan antara pikiran dan badan. Al-Balkhi berkata, ''Jika jiwa sakit, maka tubuh pun tak akan bisa menikmati hidup dan itu bisa menimbulkan penyakit kejiwaan.'' Al-Balkhi mengakui bahwa badan dan jiwa bisa sehat dan bisa pula sakit alias keseimbangan dan ketidakseimbangan. Dia menulis bahwa ketidakseimbangan dalam tubuh dapat menyebabkan demam, sakit kepala, dan rasa sakit di badan. Sedangkan, papar dia, ketidakseimbangan dalam jiwa dapat mencipatakan kemarahan, kegelisahan, kesedihan, dan gejala-gejala yang berhubungan dengan kejiwaan lainnya.

Dia juga mengungkapkan dua macam penyebab depresi. Pertama, kata Al-Balkhi, depresi disebabkan oleh alasan yang diketahui, seperti mengalami kegagalan atau kehilangan. Ini bisa disembuhkan secara psikologis. Kedua, depresi bisa terjadi oleh alasan-alasan yang tak diketahui, kemukinan disebabkan alasan psikologis. Tipe kedua ini bisa disembuhkan melalui pemeriksaan ilmu kedokteran.

Begitulah para pemikir Muslim di era keemasan memberikan begitu banyak sumbangan bagi pengembangan psikologi.

Pemikir Islam dan Psikologi

- Ibnu Sirin: Ilmuwan Muslim ini memberi sumbangan bagi pengembangan psikologi melalui bukunya berjudul a book on dreams and dream interpretation.
- Al-Kindi alias Alkindus: Dialah pemikir Muslim terkemuka yang mengembangkan bentuk-bentuk terapi musik.
- Ali ibn Sahl Rabban Al-Tabari: Dialah ilmuwan yang mengambangkan al-`ilaj al-nafs atau psikoterapi.
- Al-Farabi alias Alpharabius: Inilah pemikir Islam yang mendiskusikan masalah yang berhubungan dengan psikologi sosial dan studi kesadaran. - Ali ibn Abbas al-Majusi: Dia adalah sarjana Muslim yang menjelaskan tentang neuroanatomy dan neurophysiology.
- Abu al-Qasim Al-Zahrawi (Abulcasis): Inilah bapak ilmu bedah modern yang pertamakali menjelaskan bedah syaraf atau neurosurgery.
- Abu Rayhan al-Biruni: Dialah pemikir Islam yang menjelaskan reaksi waktu.
- Ibn Tufail: Inilah sarjana Muslim yang mengantisipasi argumen tabula rasa.
- Abu Al-Qasim Al-Zahrawi (Abulcasis): Inilah bapak ilmu bedah modern yang pertamakali menjelaskan bedah syaraf atau neurosurgery
_________________
Menghidupkan kembali agama berarti menghidupkan suatu bangsa. Hidupnya agama berarti cahaya kehidupan.

Optimalisasi Kerja Otak

OLEH : LASYITHA ANINDIYA


Gifted (cerdas istimewa) saat ini makin banyak kita dengar dan ada anggapan bahwa anak ini mempunyai prestasi yang hebat. Sering pula kita mendengar ajakan agar menstimulasi otak anak supaya menjadi cerdas seperti anak cerdas istimewa (van Tiel). Secara konvensional, anak berbakat / cerdas istimewa adalah anak yang mempunyai IQ tinggi dan prestasi menonjol disekolah. Jarang ada yang menjelaskan dari sisi sulitnya, tumbuh kembangnya dan personalitas anak tersebut.
Keberbakatan (giftesness) adalah suatu potensi bawaan yang disetiap orang mempunyai bentuk yang berbeda satu dengan lainnya. Umumnya mempunyai potensi kuat diberbagai bidang (van Tiel). Anak ini mempunyai dorongan dari dalam dirinya untuk selalu mencari tahu.
Prestasi belajarnya tidak selalu optimal, bahkan sering kali bermasalah, hal ini disebabkan adanya kesulitan yang terselubung (Silverman 2002).
Cara belajar anak berbakat (cerdas istimewa) adalah melalui proses penglihatan (visual learner), proses berpikirnya berupa gambar. Memerlukan waktu yang lebih lama untuk menterjemahkan gambar menjadi kata (Silverman 2002).
Dalam makalah ini akan dibahas bagaimana proses pembelajaran pada anak cerdas istimewa dilihat dari aspek neurologis.
DEFINISI
Banyak kepustakaan yang mendifinisikan tentang ‘Gifted’ (berbakat), akan tetapi hal ini akan sangat membingungkan. Terkadang orangtua, guru dan konselor menjadi sulit berkomunikasi, karena masing-masing dengan definisi yang berbeda.
Keberbakatan yang berdasarkan sekolah biasanya melihat kemampuan relative. Anak diidentifikasikan berdasarkan penampilannya membandingkan dengan teman sekelasnya. Anak dengan ranking 5-10% ditingkat atas memerlukan kurikulum yang lebih menantang dibandingkan dengan kurikulum regular. Definisi keberbakatan secara ini akan membingungkan orangtua, karena anak yang berbakat, ternyata disekolah lain dinyatakan tidak berbakat.
Hollingworth mendefinisikan keberbakatan sebagai potensi anak yang harus digali sehingga saat dewasa akan lebih berkembang.
Linda Silverman menambahkan bahwa pada anak berbakat didapatkan perkembangan yang tidak sinkron. Jadi tidak hanya IQ dan kemampuan, tapi juga emosi dan hipersensitifitas.
Perkembangan yang tidak sinkron dimaksud adalah perkembangan intelektual, fisik dan emosi tidak berjalan dengan kecepatan yang sama. Kemampuan intelektual selalu berkembang lebih cepat.
Dengan adanya perkembangan yang tidak sinkron ini diperlukan modifikasi dalam hal pengasuhan baik oleh orangtua, guru maupun konselor agar anak dapat berkembang optimal.
KLASIFIKASI
Keberbakatan sangatlah kompleks, bukan hanya ditentukan oleh Nilai IQ-nya saja, akan tetapi merupakan faktor multidimensi dan dinamis (van Tiel).
Carpenter (2001) & Lyth (2003), Membagi anak berbakat atas: (I). Ringan (mild) IQ = 115-129; (II). Sedang (moderate) IQ = 130-144; (III). Tinggi (high) IQ = 145-159; (IV). Kekecualian (exceptional ) IQ = 160-179; (V). Amat sangat (Profound) IQ = 180 +.
IQ normal berkisar antara 85-115, dengan normal absolute 100. Makin besar jaraknya dari nilai normal, makin membutuhkan modifikasi sarana pendidikan.
Terdapat 3 kelompok anak berbakat:
• Berbakat global: yaitu anak berbakat pada semua atau hampir semua area; biasanya matematika dan verbal;
• Berbakat matematika: anak dengan kemampuan matematika yang tinggi. Anak ini akan baik dibidang spasial, sebab2 nonverbal, daya ingat;
• Berbakat verbal: anak dengan kemampuan bahasa yang kuat. Anak ini mampu berbahasa yang lebih bila dibandingkan dengan anak seusianya. Penampilan verbalnya lebih baik.
Umumnya pada anak berbakat, prestasi belajarnya juga tinggi. Tapi dapat pula ditemukan anak berbakat yang prestasinyanya tidak optimal bahkan sering kali bermasalah. Prestasi yang kurang ini sering dianggap karena faktor motivasi dan psikologis. Anak sering dianggap malas dan tidak bersungguh sungguh, dan sering kali orangtua disalahkan karena tidak menerapkan disiplin. Banyak penelitian menyebutkan, diantara anak berbakat tidak berprestasi karena mengalami kesulitan yang terselubung (Silverman 2002).
Anak berbakat dapat pula mengalami gangguan belajar. Kelompok ini dibagi atas 3 subgroups yaitu:
• Anak telah teridentifikasi sebagai berbakat tapi kesulitan disekolah. Anak ini pencapaiannya dibawah kemampuannya, kadang adanya kesulitan belajar tidak terdiagnosa, sampai sekolah memberikan tambahan stimulus, sehingga kesulitan dibidang akademik terlihat dia berada dibawah kemampuan seusianya;
• Anak dengan kesulitan belajar yang berat, sehingga adanya kemampuan bakat tidak pernah dikenali. Baum 1985 menemukan 33% anak dengan kesulitan belajar mempunyai kemampuan intelektual yang superior. Anak2 ini tidak pernah mendapatkan program untuk anak berbakat;
• Anak dengan kemampuan dan kesulitan belajar yang saling menutupi secara tumpang tindih. Anak ini berada dikelas regular, dan kemampuannya pada tingkat rata-rata (Brody 1997).
Anak berbakat, walau dengan atau tanpa berada dikelas akselerasi, tetapi mempunyai potensi untuk berkembang. Mereka termotivasi secara internal. Dengan adanya minat /ketertarikan dan kesempatan, anak akan termotivasi. Jadi bila anak tertarik akan sesuatu dan terdapat kesempatan atau tantangan yang sesuai, maka dia akan dapat berprestasi (Brody 1997).
CIRI-CIRI BAKAT BAWAAN ANAK CERDAS ISTIMEWA
Bakat kognitif: sangat memperhatikan; penuh keingin tahuan; sangat tertarik; atensinya panjang, kemampuan untuk mengetahui alasan (reasoning) sangat baik; perkembangan tentang abstraksi, konseptual dan sintemasis baik; dengan mudah dan cepat dapat melihat adanya hubungan antara ide, objek dan fakta; proses berpikirnya cepat dan fleksibel. Kemampuan untuk menyelesaikan masalah (problem solving) nya sangat baik; belajarnya cepat, dengan sedikit praktek dan pengulangan.
Bakat sosial dan emosional: tertarik dengan hal-hal philosofi dan sosial; sangat sensitive dan emosional; sangat memperhatikan kejujuran dan keadilan; perfeksionis; energic; rasa humornya berkembang baik; umumnya termotivasi dari dalam dirinya sendiri; hubungan baik dengan orangtua, guru dan orang dewasa lain.
Bakat bahasa: perbendaharaan katanya sangat banyak; dapat membaca pada usia sangat dini, membacanya cepat dan sangat luas; sering bertanya tentang “bagaimana kalau”.
Bakat yang lain: senang mempelajari sesuatu yang baru; menyenangi aktifitas intelektual; malakukan permainan intelektual; lebih memilih buku bacaan untuk anak yang lebih besar; skeptis, kritis dan penuh evaluative, perkembangannya asinkron (Bainbridge).
Menurut Bainbridge, anak berbakat sudah dapat terlihat sejak masak kanak, dimana anak menunjukan ciri-ciri sebagai berikut:
• Pada usia dini tidak nyaman menghadapi hal yang sama (rutin) dengan waktu yang lama;
Sangat siaga (alert);
• Tidurnya sedikit;
• Tahapan tumbuh kembang untuk berjalan dan mengucapkan satu kata lebih cepat disbanding anak seusia;
• Dapat ditemukan keterlambatan bicara, tapi kemudian bicara dengan kalimat penuh;
• Mempunyai keinginan kuat untuk eksplorasi, investigasi, lingkungan;
• Sangat aktif dan bertujuan;
• Dapat membedakan antara fantasi dan realitas.
PROSES BELAJAR PADA ANAK CERDAS ISTIMEWA
A. Dengan ditemukannya MRI kepala fungsional; dapat diketahui bagaimana proses berpikir pada anak cerdas istimewa.
Aktifitas otak yang ditimbulkannya menyeluruh, terencana dan kompeks dan memerlukan koordinasi yang beragam dari visual (penglihatan), spatial (ruang), verbal (tutur kata) dan daerah sensorik diotak. Jadi merupakan pengorganisir yang baik dari informasi multimodal (beragam). Jarang yang hanya berpikir dengan satu jenis rangsangan. Sehingga pada anak in diperlukan aspek edukasi yang terorganisir.
Pada anak ini juga terdapat peningkatan aktifasi sensorik dan kesiagaan. Pada dasarnya otak anak cerdas istimewa adalah hipersensitif, dan akan bertambah dengan latihan. Hal ini bukan hanya terjadi saat pemahaman awal, tapi juga saat melakukan pengumpulan kembali (rekoleksi). Karena impresi pemahaman awal berhubungan dengan proses pengumpulan impresi berikutnya; maka otak anak ini juga ditandai dengan adanya peningkatan efisiensi dan kapasitas memori.
Daya ingat tersebut tidak hanya untuk sesuatu yang jelas dan enduring memory, tapi juga ditandai dengan multimodal, melibatkan beberapa daerah memori misalnya asosiasi personal, modalitas sensorik yang beragam misalnya warna, suara, bau, gambar visual, verbal dan impresi yang dialami. Multimodalitas ini menunjukan pada anak cerdas istimewa akan membuat hubungan2 saraf yang tidak biasanya terjadi. Seringkali mereka mempunyai kemampuan special untuk berpikir secara asosiasi/menghubungkan (termasuk analogy dan metafora), dalam analisa dan keterampilan yang terorganisir.
Dengan adanya karakteristik otak yang special tersebut, anak cerdas istimewa menyenangi sensasi yang jelas, ingatan yang tidak biasa (extraordinary), senang mempelajari ilmu pengetahuan, mengadakan asosiasi yang beragam, kemampuan analitiknya lebih besar. Tapi karakteristik ini dapat menimbulkan efek lain yaitu kebenyakan input sensorik, emosional dan memori, hipersensitivitas sensorik,disorganisasi personal, cepat teralih dengan rangsang sensorik, proses yang terlambat karena banyaknya pilihan (option) dan kelelahan mental.
Untuk menjaga keseimbangan tersebut diperlukan kerjasama antara otak bagian depan kanan dan kiri; dimana otak kiri berfungsi sebagai pusat perencana gerak (menentukan tujuan prioritas, cara bekerja secara detail, strategi yang digunakan) dan otak kanan sebagai pusat kreatifitas (mengkombinasikan ide, sensasi, imaginasi, membuat pendekatan alternative). Kunci untuk dapat berpikir secara optimal adalah dengan mempertahankan komunikasi yang produktif dan kerjasama antara kedua otak. Keterampilanyang kelihatannya analitik, misalnya matematika, ternyata juga memerlukan imajinasi, berpikir asosiasi; sementara itu keterampilan yang tampaknya abstrak dan kreatif memerlukan perencanaan yang detail (Eide).
B. Beberapa anak berbakat, belajar secara efektif melalui proses non-auditory (bukan dengan proses pendengaran).
Karena anak ini sulit untuk belajar secara efektif dalam ruang kelas tradisional, sehingga penampilannya berada dibawah anak seusianya. Walaupun demikian, dengan sifat keberbakatannya, secara intrinsic mereka menyadari kekurangannya dalam pencapaian prestasi. Mereka mogok sekolah dan seringkali menjadi perusak dikelas atau dirumah menunjukan karakteristik anak berbakat dengan kesulitan belajar. Frustasi, konflik dari dalam, rasa bosan, sulit menemukan teman bermain yang sesuai, kepercayaan diri kurang (Pittelkow).
Anak ini disebut mengalami deficit proses pendengaran sentral (Central Auditory Processing Deficit, CAPD). Proses pendengaran sentral adalah keadaan dimana anak mengerjakan sesuai dengan suara yang didengar. Untuk itu anak harus mempunyai kemampuan untuk mendengar suara secara normal. Jadi harus dilakukan pemeriksaan untuk memastikan bahwa pendengarannya normal (Pittelkow).
Untuk suatu proses pendengaran sentral yang baik dibutuhkan:
• Kemampuan untuk melokalisir dan menentukan arah suara;
• Diskriminasi auditory, yaitu kemampuan untuk mengenal perbedaan antara beberapa suara yang berbeda;
• Pengenalan pola auditory, yaitu kemampuan untuk mengenal pola suara misalnya silabel dan kata dengan multi silabel;
• Pendengaran berdasarkan pola waktu; yaitu kemampuan untuk mengenali serangkaian suara secara berurutan berdasarkan waktu;
• Kemampuan auditory untuk mengenali signal akustik yang bergradasi; misalnya bicaranya lembut, volume rendah;
• Kemampuan auditory untuk mengenali kompetisi signal akustik; yaitu kemampuan untuk mendengar seseorang bicara ditempat keramaian.
Anak dengan CAPD akan menunjukan gejala ketidak ikut sertaan dalam diskusi dikelas atau tidak sesuai; kelihatan menarik diri, seolah tak mendengar, tidak memperhatikan dikelas dan mempunyai kesulitan dalam memusatkan perhatian terhadap presentasi yang memerlukan pendengaran, cepat teralih, bekerja baik dikelas yang terorganisir baik, kesulitan dalam mengikuti suruhan verbal yang kompleksdan melokalisir suara (Pittelkow).
Pada pemeriksaan dapat ditemukan adanya nilai kemampuan IQ verbal yang lebih rendah disbanding performance; kemampuan membaca dan mengejanya buruk, kurang trampil dalam hal motorik kasar dan halus, kemampuan menyanyi dan bermain music buruk, ada riwayat sakit telinga tengah; kemungkinan ada riwayat yang sama pada anggota keluarga (Pittelkow)
Karena pada anak berbakat (cerdas istimewa) biasanya terbentuk strategi belajar sendiri atau menggunakan pengetahuan yang sudah ada untuk menutupi kekurangannya, mereka tidak selalu menunjukan gejala tipikal CAPD. Kekurangan tersebut baru terlihat bila mereka harus berhadapan dengan situasi yang baru, dimana belum terbentuk strategi alternative.
Didalam kelas, anak cerdas istimewa yang mengalami CAPD hampir selalu menggunakan visual clues (patokan-patokan visual) untuk menyelesaikan tugas. Seringkali mereka sudah mengerti apa yang diterangkan guru, karena mereka telah belajar sendiri dirumah menggunakan computer, televise atau buku bacaan, sehingga mereka dapat mengikuti pelajaran dikelas. Dia dapat menebak apa yang diinginkan guru dari apa yang didengar dan yang dilihat. Atau sebaliknya anak tidak berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan atau disruptif. (Pittelkow).
C. Cara belajar anak berbakat adalah melalui proses penglihatan (visual learner), proses berpikirnya berupa gambar dan memerlukan waktu yang lebih banyak untuk menerjemahkan gambar menjadi kata kata (Silverman 2002). Dapat disertai dengan adanya kelemahan dalam proses berurutan (sequential), pemanggilan kata, dan kesulitan dalam pekerjaan yang memerlukan keberuntunan misalnya membaca, mengeja, berhitung, menulis, mengorganisir (Silverman 2002).
Dapat membaca pada usia dini dan berpikir secara abstrak.
Mereka melihat secara 3 dimensi, sehingga dapat melihat objek dari berbagai perspektif. Mereka unggul dalam hal puzzles, membaca peta, konstruksi, seni, ilmu pengetahuan, music, mesin, computer, pemecahan masalah, kreatifitas dan empati. Kemampuan ini sesuai dengan jaman tehnologi, dan akan meningkatkan kesempatan bekerja pada usia dewasa. Tapi mereka tidak sesuai dengan tuntutan disekolah yang pola pengajarannya terfokus pada kemampuan otak kiri, keterampilan yang berurutan. Walau sudah ada perubahan dengan pola pengajaran disekolah, anak dengan pola pembelajaran visual tetap kurang berprestasi (Silvester 2002).
Terdapat beberapa penyebab mengapa anak berbakat tidak optimal berprestasi yaitu disfungsi integrasi sensorimotor, gangguan dalam memproses pendengaran sentral, kesulitan memproses visual, gangguan atensi (perhatian) dan hiperaktif, disleksia. Kebanyakan kelainan ini berpengaruh terhadap otak kanan, proses berurutan, dan meningkatkan kesempatan anak untuk menjadi otak kanan, dengan proses pembelajaran visual (Silvester 2002).
Dapat pula pada anak tersebut terdapat gangguan dengar yang terjadi pada usia 1 tahun, atau kesulitan pada saat dilahirkan sehingga akan mempengaruhi perencanaan gerak motorik halus, yang dibutuhkan untuk kelancaran gerak, kecepatan dan kenyamanan pada saat menulis (Silvester 2002); ini dapat diatasi dengan memberi kesempatan pada anak untuk menulis dengan menggunakan keyboard.
Sering kali ditemukan adanya keterlambatan motorik yang terjadi pada usia dini. Hal ini harus dikenali karena harus dikoreksi sebelum usia 8 tahun, dimana ini periode emas untuk memperbaiki disfungsi sensori motor. Sering kali karena melihat adanya keunggulan pada area kemampuan yang lain, guru dan dokter anak bersikap menunggu dan mengharapkan keterlambatan motorik tersebut akan membaik dan dapat mengejar keterlambatannya (Silvester 2002). Jadi harus dilihat adanya gerakan yang canggung, mengganti ganti tangan pada saat beraktifitas, tidak mampu menggerakan tangan menyilang garis tengah, kesulitan dalam menulis dan menggambar (Silvester 2002).
Infeksi telinga yang berulang akan berefek pada pendengaran frekuensi tinggi, yang berperan dalam mengatur proses bicara dan motorik halus untuk keberuntunan pada saat menulis. Frekuensi yang tinggi ini diproses di otak kiri, sedangkan frekuensi rendah diproses di otak kanan; sehingga adanya gangguan yang terjadi pada periode kritis belajar menyebabkan otak kiri kurang dirangsang dan kurang berkembang. Frekuensi tinggi ini berperan pada proses berurutan dan bahasa; itulah sebabnya gangguan disini akan menyebabkan kesulitan dalam menulis, yang banyak memerlukan keberuntunan (dari huruf – kata – kalimat – paragraph – laporan- ceritera - essay. Itulah sebabnya anak dengan visual learner tidak suka menulis (Silvester 2002). Doreen Kimura (1993) menemukan bahwa fungsi otak kiri juga banyak berhubungan dengan gerakan tertentu dari tangan dan dalam mengontrol otot mulut (oral) dan tangan. Pada perkembangan berikutnya dengan berkembangnya kemampuan manipulasi ketangkasan tangan, ini merupakan dasar yang berguna untuk membangun sistim komunikasi ; pertama tama dengan gesture (gerakan tubuh) dan menggunakan tangan kanan, kemudian menggunakan otot-otot untuk bicara (vocal), dengan demikian otak kiri ini berperan mengontrol sistim motorik yang berhubungan dengan ekspresi linguistic (bahasa) baik itu bicara maupun menulis (Springer & Deutch 1998).
Pada visual –spasial learner, tangan kanan yang banyak digunakan untuk menulis yang diatur oleh otak kiri lebih lemah dibanding otak kanan yang mengatur hal yang tidak berurutan (non sekuensial).
Pada anak yang sangat berbakat, pengaruh bahasa dan bicara tidak begitu terlihat karena ia dapat menggunakan sebab-sebab yang abstrak untuk menebak kata yang tidak jelas didengarnya. Tapi karena hanya sedikit korelasi antara kepandaian umum dan menulis tangan atau mengeja, kemampuan abstraksi ini tidak banyak menolong. Sehingga anak berbakat yang sering mendapat infeksi telinga pada usia 1 tahun, perkembangan bahasanya sering tepat waktu, tapi mengalami kesulitan dalam melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan menulis (Silvester 2002).
Proses menulis itu sendiri terdiri dari beberapa kemampuan yang saling berhubungan yaitu; memformulasikan gagasan, merubah gagasan menjadi sekumpulan kata, membuat menarik, menggunakan bahasa untuk mengekspresikan gagasan, membuat pikirannya cukup komunikatif dengan pembaca, ejaan, tata bahasa, pemisahan antar kata, penempatan huruf besar, pemilihan kata yang tepat, struktur kalimat, menulis (Silvester 2002).
Untuk visual learner hanya memformulasikan gagasan yang mudah dilakukannya, gagasan-nya cemerlang, sesuatu yang baru, ceritera yang menarik, memecahkan masalah. Tapi mengalami kesulitan dalam melakukan proses menulis yang selanjutnya, mereka kesulitan untuk merubah gagasan menjadi kata, tidak mau menulis, sehingga gagasan-nya yang banyak dan cemerlang tetap tertahan tidak tersekspresikan (Silvester 2002).
Mengorganisir pikiran kedalam bentuk yang komunikatif juga merupakan suatu proses yang berurutan.
Gambar adalah suatu kesatuan yang utuh, dan bukan suatu yang berurutan. Pada visual learner seluruh gagasan sama pentingnya dan seluruh detail pada gambar adalah saling berhubungan, jadi sulit untuk mengekspresikan gagasan-nya. Selain itu harus juga diperhatikan ejaan, tata bahasa, penggunaan kata, struktur kalimat, pemisahan kata, huruf besar, yang kesemua ini tidak ada hubungannya dengan gambar. Selain itu juga harus menulis tangan, yang sulit dikerjakan walaupun anak dapat menggambar detail dengan baik, karena gerakan motorik halus yang berurutan untuk menulis tidak dapat dikerjakan secara otomatis dan digunakan sebagai alat untuk belajar dan berekspresi (Silvester 2002).
Menulisnya buruk, ada yang menyebutnya disgrafia/ gangguan menulis (pedagogi), disfungsi integrasi sensori motor (okupasi terapi), gangguan visual motor, gangguan perkembangan koordinasi (psikolog), gangguan menulis. Ini bisa diatasi dengan menggunakan keyboard dan memperkenalkan computer sedini mungkin, dengan demikian akan merangsang kedua belahan otak (otak kanan & otak kiri) dan akan mengurangi kelemahan yang terjadi pada otak kiri.
Pembatasan waktu yang diberikan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan akan membuat visual learner panic dan tidak dapat berpikir. Mereka tidak dapat megeluarkan pengetahuannya dan tidak dapat menemukan kata-kata. Mereka membutuhkan lingkungan belajar yang lebih nyaman, tidak ada tekanan.
Pada anak yang banyak diam saat ulangan, kelihatannya berpikir lambat, selalu terahir dalam menyelesaikan tugas menulis, tulisannya lambat dan jelek, anak tersebut harus dirujuk untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Pada anak yang kelihatannya memproses sesuatu dengan lambat akan memerlukan lingkungan kelas yang tidak ada pembatasan waktu saat ulangan, perlu waktu yang lebih banyak untuk menyelesaikan pekerjaan dikelas, diijinkan mengerjakan pekerjaan dengan menggunakan keyboard, diijinkan menyelesaikan pekerjaan dirumah. Adaptasi tersebut akan bermanfaat untuk membuka jalan bagi anak untuk meningkatkan penerimaam dan melanjutkan ketingkat berikutnya (Silvester 2002).
PENANGANAN
1. Penanganan akan keberbakatannya
Karena terdapat peningkatan sensitifitas diotaknya, anak ini cenderung untuk belajar dengan sedikit pengulangan (repetition), dan memerlukan penjelasan yang sedikit dikelas; walau perlu diingat anak ini ada yang kemungkinan sensitive terhadap modalitas tertentu; pendengaran, penglihatan, kinestetik.
Peningkatan sensitifitas juga mengakibatkan anak mudah beralih perhatian, tapi bila ada tugas akan terfokus kembali. Diduga pengalihan perhatian ini merupakan salah satu dari sifat kreatifitasnya. Dan bila hipersensitifitas ini mengganggu proses belajar, harus dievaluasi dan ditangani (Eide)
Karena terdapat peningkatan daya ingat, anak ini hanya sedikit memerlukan pengulangan (review), akan dating kekelas dengan membawa pengetahuan dari luar kelas, karena anak ini memperoleh pengetahuan secara tidak langsung ( misalnya dari menguping, melihat, mengobservasi informasi yang didapatnya dari luar pendidikan formal).
Dengan demikian karena anak ini mampu dengan usaha yang sedikit untuk memperoleh standard pengetahuan dasar, kurikulum yang diberikan tidak dipenuhi dengan berbagai macam informasi, tapi lebih ditekankan pada proses berpikir secara seorang ahli; yaitu apa yang harus mereka lakukan dengan informasi yang telah mereka dapatkan. Jadi lebih ditekankan pada bagaimana mengorganisir dan memproses informasi. Mereka harus mengerti proses alamiah berpikir, mengerti kualitas informasi yang dipunyai dan mengerti bagaimana menggunakan informasi tersebut.
Dengan memahami proses alamiah berpikir, anak akan dibekali dengankemampuan memahami terjadinya daya ingat, proses sensorik, pengorganisasian mental dan pola belajar dan pembekalan tentang pengetahuan organisasi, interpersonal dan strategi pemecahan masalah yang lain. Pelatihan yang demikian akan membawa anak dapat menghadapi masalah spesifik dan proses belajar secara umum yang akan mendatangkan keberhasilan.
Dengan mengerti proses alamiah dari informasi, anak mempunyai kemampuan untuk mengevaluasi kualitas informasi yang diperoleh. Harus diperkenalkan bagaimana sebenarnya ilmu pengetahuan itu didapat dan memvalidasinya.
Dengan memberikan proses pelatihan bagaimana memahami struktur dan kekuatan argumentasi, dan bagaimana pengaruhnya terhadap pengetahuan yang telah kita peroleh, meningkatkan self awareness tentang proses berpikir dan mengemukakan masalah; proses memperoleh informasi itu sendiri, akan menjadikan mereka pemimpin yang produktif tidak hanya sebagai peninjau, tapi sebagai peserta aktif dalam mencari kemajuan dibidang ilmu pengetahuan (Eide)

2. Penanganan untuk kemungkinan adanya CAPD (Central Auditory Processing Deficit)
Pemeriksaan adanya CAPD dilakukan pada usia 7-12 tahun; karena bila dilakukan pada usia kurang dari 7 tahun, sangat dipengaruhi oleh berbagai variasi
Setiap hasil penilaian pemeriksaan pada anak cerdas istimewa harus dibandingkan dengan kemampuan usia mental, dan bukan dengan usia chronologisnya; jadi pada anak usia 9 tahun dengan usia kematangan mental berada pada usia 12 tahun; kemudian pada hasil pemeriksaan didapatkan hasil yang sesuai dengan usia 9 tahun, itu sudah merupakan masalah.
Pemeriksaan pada usia kurang dari 5 tahun disarankan dilakukan pada anak dengan riwayat radang telingan yang berulang; keterlambatan bicara dan bahasa, ketidak mampuan anak dalam melakukan keterampilan sesuai dengan usia, ketidak mampuan untuk melokalisir arah suara.
Pada CAPD; disarankan untuk melakukan intervensi dini pada saat otak mengalami pematangan dan mudah untuk diperbaiki dengan membentuk jaras baru (Pittelkow).
3. Terhadap kesulitan belajar
Kemampuan dasar seorang anak dari segi edukasi adalah mengingat abjad, belajar bunyi abjad, berhitung, melakukan proses berhitung, menulis.
Dari segi neurologi, keterampilan dasar anak adalah membedakan bunyi, persepsi bicara dalam keadaan yang ribut, persepsi visual, kemampuan sensori motor, kemampuan mengingat dan berbahasa, kemampuan untuk memperhatikan,motivasi, mengontrol impulsive (Eide 2006).
Normalnya kemampuan ini akan berkembang dengan adanya interaksi terhadap orang tua, saudara atau anak sebaya. Tapi pada anak dengan gangguan input sensorik atau hubungan fungsi integrasi, aktifitas rutin tidak cukup untuk merangsang terjadinya perkembangan yang optimal (Eide 2006).
4. Cara pengajaran
Menciptakan lingkungan pendidikan yang sesuai sedini mungkin akan menstimulasi keinginan belajar anak. Seorang anak yang penuh keingintahuan akan hilang minatnya bila penempatan kelas dan pendekatan guru tidak sesuai, misalnya pemberian tugas yang terlalu mudah atau terlalu sulit. Kemampuan anak untuk mengenali dan menyelesaikan masalah dengan beragam cara, tidak akan cocok dengan program pendidikan untuk anak berbakat yang tradisional atau tuntutan pada kelas spesifik dimana penentuan keberbakatan anak berdasarkan nilai prestasinya (Bainbridge).
Model pembelajaran pada anak akan mempengaruhi pencapaian/prestasi akademik.
Anak berbakat yang pencapaiannya tidak optimal, terjadi karena kemampuan visuo spasial-nya tinggi, tapi perkembangan kemampuan sequencing (keberurutan) kurang; sehingga mengalami kesulitan dalam hal fonic, mengeja, bahasa asing dan matematika. Hal ini dapat diatasi dengan memberikan cara pengajaran dan lingkungan yang lebih sesuai, tidak penuh tekanan, tidak penuh penuh kompetisi.
Menurut Whitmore (1980), terdapat 3 strategi untuk menangani anak berbakat dan anak dengan pencapaian yang tidak optimal yaitu:
• Strategi suportif, yaitu dengan menciptakan tehnik dan design kelas yang menimbulkan perasaan bahwa anak adalah anggota keluarga dari kelas tersebut, termasuk metode untuk mendiskusikan masalah anak, design kurikulum yang berdasarkan kebutuhan dan minat anak, dan memberi kesempatan anak untuk mengumpulkan tugas tentang materi yang sudah dikuasainya.
• Strategi intrinsic. Anak cerdas istimewa selalu mempunyai keinginan untuk belajar untuk meningkatkan potensi akademiknya. Suasana kelas harus mengundang dan memberi kesempatan anak untuk menunjukan usahanya. Guru tidak hanya menilai dari kesuksesan anak, tapi juga melihat usaha yang dilakukan anak,memberi kesempatan murid untuk melakukan evaluasi hasil pekerjaan sendiri, sebelum memberi nilai.
• Strategi remedial. Guru harus menyadari bahwa anak dengan prestasi yang tidak optimal bukanlah anak yang sempurna; setiap anak mempunyai kekuatan dan kelemahan dalam hal kebutuhan sosial, emosional dan intelektual. Dengan strategi remedial anak diberi kesempatan untuk meningkatkan kekuatan dan minatnya dan kesempatan ini juga akan meningkatkan daerah spesifik kesulitan belajarnya. Hal ini akan bermanfaat bila ada minat dari anak dan dipilih guru yang sesuai (mengerti minat dan pola belajar anak), dengan strategi pembelajaran tambahan yagbertujuan untuk membantu anak. Ini akan berhasil untuk anak dengan kesulitan akademik yjangka pendek, tapi tidak untuk kelompok dengan underachiever yag sudah lama. Penanganan oleh guru yang tidak tepat akan lebih memperburuk keadaan anak.
KESIMPULAN
o Anak cerdas istimewa mempunyai naluri, dorongan dari dalam dirinya untuk mencari ilmu pengetahuan;
o Proses berpikirnya multimodalitas, menyeluruh;
o Terdapat hipersensiifitas dan peningkatan memori;
o Anak cerdas istimewa tidak selalu menunjukan prestasi yang optimal;
o Cara belajarnya visuospasial;
o Harus dikenali adanya penyebab pencapaian yang tidak optimal;
o Penanganan harus dimulai sedini mungkin, melibatkan medis untuk diagnostic, terapis dan guru;
o Cara belajar harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak.

PEMILU DAN DAMPAK BURUKNYA TERHADAP PSIKOLOGIS CALON LEGISLATIF

OLEH: LASYITHA ANINDIYA


1. Serba-serbi Pemilihan Umum (PEMILU) Tahun 2009

Pemilu 2009 ibarat bertarung di meja judi. Ada pemenang, ada pecundang. Keberuntungan tidak lagi ditentukan siapa yang cerdas dan siapa yang punya fulus melimpah. Mereka yang memenangkan pemilu nanti adalah orang yang ikhlas. Terpilih atau tidak, ia tetap tegar, terus berjuang dan mengabdi untuk negeri dan bangsa ini.
Menjadi calon legislatif (caleg) memang seperti mengadu peruntungan. Setidaknya percaya diri bahwa dirinya merasa pantas menjadi wakil rakyat. Meski tak punya visi-misi yang jelas untuk membangun negeri ini, yang penting berpartisipasi. Menjadi budaya bangsa ini: tekor asal kesohor. Tapi kalau sudah tekor lalu stress berat, inilah yang menyedihkan.
Seperti kita ketahui bersama, Mahkamah Konstitusi (MK) telah mengabulkan uji materi mengenai Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Calon terpilih didasarkan suara terbanyak, bukan berdasarkan nomor urut.
Konsekuensi dari keputusan tersebut, partai-partai politik yang belum menerapkan sistem sebagaimana putusan MK di atas agak kelabakan. Lebih-lebih para calon legislatifnya. Mereka yang tadinya sudah melihat di pelupuk mata akan melenggang mulus ke gedung DPR, DPD atau DPRD harus bekerja dan berusaha lebih keras lagi. Dengan sistem calon terpilih didasarkan suara terbanyak, maka mau tidak mau, suka atau tidak suka mengharuskan para caleg rajin menyapa calon pemilih.
Untuk dapat rajin menyapa calon pemilih diperlukan modal atau biaya tambahan. Bukan tidak mungkin angkanya semakin membengkak. Sekurang-kurangnya biaya untuk transportasi, telekomunikasi dan akomodasi. Ada biaya tak terduga. Dana politik yang menyangkut komunikasi misalnya membeli pulsa, sedangkan akomodasi meliputi sewa posko, internet (membuat situs/website/jejaring sosial dunia maya), iklan (televisi, radio, media cetak/elektronik/dunia maya), honor tim sukses, perizinan-pajak, konsumsi, atribut pemilu dan sebagainya.
Jadi tidak cukup bertemu dengan calon pemilih hanya dengan tebar pesona dan janji-janji saja. Kudu menyiapkan ‘dana politik’ untuk daerah pemilihannya agar menjadi daya tarik pemilihnya. Money Politik, sepertinya menjadi sesuatu yang mubah. Karena begitulah riilnya, jika mengikuti kemauan rakyat miskin saat ini.

2 Dampak Buruk Pemilu Terhadap Para Caleg

Dilihat dari banyaknya parpol peserta pemilu yang akan memperebutkan hak suara terbatas, sangat memungkinkan terjadinya kegagalan. Padahal para caleg itu sudah mengeluarkan biaya kampanye tidak sedikit. Biaya kampanye para caleg cukup beragam ada yang diperoleh melalui pinjaman bank, hasil penjualan barang berharga, tanah dan rumah, maupun kendaraan bermotor yang nilainya cukup banyak, sehingga jika para caleg itu gagal dalam pemilu sedangkan barang berharaganya sudah habis, kecenderungan depresi bagi caleg yang kurang kuat mentalnya sangat memungkinkan terjadi.
Berdasarkan penelitian dari FK Institut – sebuah lembaga yang dibentuk kalangan aktivis muda, di Tapanuli Selatan dan Padangsidimpuan – berpendapat, dengan system demokrasi suara terbanyak saat ini, chost politik yang dikeluarkan seorang caleg untuk terpilih dinilai sangat luar biasa besar dan sudah tidak masuk akal lagi.
Sehingga apabila para caleg sudah terlalu ambisi, akan melakukan apa saja untuk mendapatkan dana biaya kampanye, misalnya menjual asset yang dimilikinya, berhutang ke rentenir, bahkan ada yang tega memborohkan SK PNS istrinya ke Bank untuk mendapatkan dana segar untuk kegiatan kampanyenya.
Untuk mengantisipasi ini, peranan para alim ulama untuk memberikan bimbingan mental dan mengajak kembali para caleg yang gagal nanti agar tidak lupa akan sang pencipta yang telah menentukan apa yang terbaik bagi hambanya. Mahalnya biaya demokrasi yang terjadi saat ini akibat peraturan KPU dan UU Pemilu yang dinilai belum tepat sesuai dengan budaya dan cita-cita pendiri bangsa, sehingga dinilai tidak efektif dan bertele-tele.
Money Politik menyinggung tentang masih banyaknya terjadi praktek money politik menjelang hari H pemilu ini, hal ini tidak terlepas dari facktor kemisikinan dan mental masyarakat yang sudah apatis melihat prilaku birokrasi dan elite-elite politik didaerah maupun tingkat nasional.
Menurut hasil study mereka, sasaran serang fajar pada umumnya, rakyat marginal (miskin) yang berprofesi sebagai tukang becak, buruh tani, pengangguran, pedagang kecil, buruh bangunan, yang masih banyak terdapat di negeri ini. Tetapi biasanya untuk kalangan terpelajar, dan masyarakat ekonomi menengah keatas lebih cerdas dalam menentukan hak politiknya sehingga tidak bias “dibeli suaranya” pada pemilu nanti.
Salah satu solusi yang paling tepat adalah, semua harus mampu memberikan pencerahan politik kepada rakyat, agar kedepan pemerintah yang terpilih nanti, harus mengubah haluan ekonomi, kembali kepada UU 1945 pasal 33. Di mana seluruh kekayaan alam di kuasai Negara dan di manfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, bukan seperti yang terjadi saat ini, kekayaan alam yang melimpah ruah di negeri ini, digadaikan kepada asing, dan sekelompok elite. Sehingga pada hakikatnya bangsa kita ini masih terjajah, kita belum berani melawan kepentingan kapitalisme
Tidak sedikit caleg dari kalangan petani yang terpaksa menjual tanah dan hewan peliharaanya untuk membiayai kampanye. Tentu luas tanah yang dijual pun tidak sedikit, dengan harapan setelah lolos menjadi caleg, uang yang mereka keluarkan bisa kembali. Namun jika angan-angan tersebut gagal, kecenderungan depresi atau sampai gila bisa terjadi.
Tekanan batin bagi caleg yang gagal dalam pemilu itu bisa muncul dari keluarga sendiri, maupun para tetangga yang mengolok-olok kegagalanya. Kondisi seperti itu bisa menimbulkan depresi dan kegilaan bagi caleg yang mentalnya lemah akibat mendapat tekanan dari sana sini, selain harus bisa mengembalikan biaya bekas kampanye. Gangguan kejiwaan ini bagi para caleg yang gagal muncul dari rasa kecewa kalah bertarung. Jika kekecewaan itu begitu mendalam lamalama menjadi frustasi, kemudian terjadi gangguan tidur, selanjutnya depresi. Depresi lama-lama akan menyebabkan gangguan kejiwaan berat dalam bahas medis disebut psikotik atau yang kita kenal dengan sebutan gila.
Rasa kekecewaan itu sendiri muncul dari tidak siapnya caleg menerima kenyataan kalah dalam Pemilu. Sementara dalam pertarungan telah mengerahkan segala daya dan upaya bahkan optimis menang. Gangguan kejiwaan masing-masing orang berbeda. Ada yang tahan hingga beberapa mingu baru terasa ada juga yang langsung. Gangguan psikologis juga tidak hanya mengancam caleg yang kalah. Caleg menang pun bisa terserang gangguan kejiwaan. Hal ini terjadi karena euforia atau senang berlebihan atas kemenangan yang diperoleh. Sementara yang bersangkutan tidak siap, bingung untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan legislatif karena kurang pengetahuan dan pergaulan. Pada akhirnya bisa menjadikan gangguan kejiwaan. Karena itu penting sekali siap kalah dan siap menang. T
rend sakit jiwa sekarang ini memang terus meningkat. Dampak utamanya masalah kesulitan ekonomi yang diperparah dengan krisis ekonomi global. Peningkatannya sebesar 37 persen. Momentum Pemilu ini mungkin hanya segelintir caleg. Namun tetap akan mempengaruhi peningkatan prosentasi.
Seharusnya diperlukan adanya standardisasi tes kesehatan fisik dan mental terhadap para calon anggota legislatif (caleg) untuk mengantisipasi adanya caleg yang stres usai mengikuti pemilihan umum (pemilu). Pemerintah perlu memberikan aturan yang lebih standar untuk persyaratan tes kesehatan fisik dan mental bagi caleg. Selama ini memang sudah ada persyaratan mengenai tes sehat fisik dan mental bagi caleg, tetapi terkadang terdapat instrumen yang berbeda di setiap rumah sakit. Untuk itu diperlukan adanya aturan yang lebih standar mengenai komponen dalam tes kesehatan tersebut. Tidak sekadar secara klinis, tetapi juga ada tes yang dapat mengetahui karakter dasar dan potensi mental yang dimunculkan saat tes kesehatan. Stres bisa disebabkan oleh beberapa faktor, baik faktor internal maupun eksternal. Dalam fenomena itu, faktor eksternal dimungkinkan mempertinggi tingkat stres para caleg mengingat biaya proses menjadi caleg tergolong besar dengan berbagai masalah. Faktor eksternal, misalnya, banyak uang yang harus dikeluarkan para caleg dalam proses menjadi caleg, padahal belum tentu uang tersebut milik pribadi, bahkan caleg dan keluarganya menjadi malu kalau tidak lolos dalam pemilu. Jika caleg tersebut merasa tertekan, bisa dimungkinkan stres dapat terjadi. Apalagi kalau daya tahan mental yang dimiliki para caleg lemah.
Di dalam kehidupan sudah menjadi hal yang wajar jika manusia dihadapkan pada suatu masalah, dan wajar pula jika manusia hidup menemui masalah. Namun bagaimana manusia beradaptasi dan menghadapi masalah dengan bijaksana itulah yang mungkin belum dimiliki para caleg. Melihat fenomena semacam ini, semuanya memang kembali ke personal masing-masing apakah mereka memiliki daya tahan mental yang kuat untuk menghadapi masalah atau tidak. Jadi, sebenarnya para caleg juga harus memiliki daya tahan mental yang kuat sehingga mampu beradaptasi dan menghadapi setiap masalah. Menurut psikolog Dadang Hawari, biasanya, caleg yang berpotensi terkena stres karena salah membaca perhitungan antara harapan dan kenyataan tidak sesuai. Kalau sudah stress, maka potensi caleg gagal yang akan masuk rumah sakit jiwa semakin tinggi. Sebagai orang yang beriman, para caleg harus belajar menjadi hamba yang ikhlas. Berharaplah keridhaan Allah semata, bukan harta, kedudukan dan popularitas yang dikejar. Jadi caleg atau tidak, masih banyak cara untuk berjuang dan mengabdi kepada negeri dan bangsa ini.
Psikolog Dadang memberi contoh, pelaksanaan Pilkada beberapa waktu lalu, menimbulkan tekanan jiwa bagi sebagian kandidat yang tidak terpilih. Dalam Pemilu legislatif 2009, hal serupa juga diprediksi terjadi, bahkan semakin banyak. Bisa saja gangguan jiwa terjadi, kalau harapannya terlalu tinggi tapi tidak tercapai.
Ada beberapa penyebab lain yang bisa mengancam kondisi kejiwaan para caleg yang tidak terpilih. Harta yang sudah terkuras habis, lalu janji dari pihak-pihak yang hanya memberikan harapan, bisa menimbulkan kekecewaan mendalam bagi batin sang Caleg. Gangguannya bisa dari yang paling ringan hingga sampai sakit jiwa. Bukan tidak mungkin, depresi akan mengancam kesehatan seorang caleg. Dalam beberapa kasus Pilkada lalu, ditemukan caleg yang sakitnya semakin parah usai kalah dalam pemilihan kepala daerah. Kasusnya di Jawa Tengah, dia sudah jual semuanya, lalu kalah sampai sakit dan meninggal. Dia juga dijanjikan menang oleh partainya. Seharusnya partai politik mampu mengantisipasi hal ini dengan menyiapkan mental para calegnya dalam menghadapi hasil Pemilu. Selain dipersiapkan untuk menang, caleg juga harus siap kalah. Ketatnya persaingan mendapatkan kursi legislatif seyogianya tak menimbulkan tekanan kejiwaan bagi para pesertanya. Setiap caleg hendaknya berpasrah diri kepada Tuhan dan memegang prinsip hidup ikhlas agar terhindar dari stres yang berkepanjangan bila tidak terpilih nanti.
Bisa dibayangkan, betapa susah jerih payah para caleg menemui dan bersilaturahmi ke calon pemilih di daerah pemilihan luar Pulau Jawa. Apalagi yang luas dapilnya meliputi satu provinsi, dengan beberapa kabupaten di dalamnya. Untuk menyapa calon pemilih di pedalaman Kalimantan Tengah, misalnya, berapa sungai dan anak sungai yang mesti dilewati dengan jarak berpuluh-puluh kilometer panjangnya. Dari satu pemukiman penduduk ke pemukiman penduduk terdekatnya saja, sudah harus mengeluarkan berliter-liter solar untuk perahu, sampan atau speedboat yang disewanya. Belum biaya lainnya. Di Papua, seorang caleg DPR-RI sampai harus menyewa pesawat kecil untuk menemui calon pemilihnya. Seperti diberitakan media massa, tak sedikit caleg yang jatuh sakit karena keletihan setelah kampanye. Bahkan ada caleg yang meninggal dunia. Seperti itulah dramatisasi pemilu, seolah menentukan nasib baik-buruknya seseorang. Restu masyarakat, orang tua, sanak keluarga, handai taulan, kiai bahkan ‘paranormal’ menjadi bagian kehidupan tersulit.
Satu hal yang sering diabaikan para caleg adalah tidak menjadikan Tuhan sebagai tempat pelarian. Tidak menyadari bahwa perjuangan tak pernah berhenti. Ridha Allah, itulah yang seharusnya dicari. Sehingga jadi caleg atau tidak, seseorang akan ikhlas dan tetap mengabdi sampai kapan pun.
Usai Pemilu, kita tak ingin ada caleg DPR-RI yang dikejar-kejar hutang oleh pengusaha atribut lantaran belum melunasi order pesanannya. Sudah tak terpilih, terbelit hutang pula. Apabila caleg tidak siap menang atau siap kalah, tidak menyiapkan mental dan keimanan kokoh, bukan mustahil usai Pemilu 2009, akan ada kabar tak sedap di media massa tentang caleg yang stres, stroke bahkan sakit jiwa. Juga bukan tidak mungkin akan ada caleg yang bunuh diri akibat gagal meraih kursi legislatif. Selain depresi dan stres, caleg juga rawan mengalami impotensi. Hal tersebut akibat beban fisik dan psikis, terutama mereka yang gagal melenggang ke kursi parlemen pada Pemilu 9 April 2009.
Selain masalah psikis, akibat gagalnya dalam pemilu juga berdampak pada kesehatan jasmani para caleg, contohnya saja penyakit impotensi. Tidak hanya persoalan impotensi, namun berbagai penyakit akibat beban luar biasa pada fisik dan psikis yang dialami caleg bisa terjadi. Faktor beban fisik dan psikis yang berat bisa menjadi sumber impotensi.Diperkirakan, jumlah caleg yang mengalami stres dan depresi berat akibat gagal meraih suara pada pemilu akan bertambah karena jumlah parpol dan caleg meningkat tajam pada Pemilu 2009 dibanding Pemilu 2004. Faktor psikis, misalnya, mengalami stres dan depresi berat akibat kegagalan dalam meraih suara bisa menimbulkan ketegangan sehingga sulit untuk ereksi. Saat mengalami kegagalan ereksi akibat ketegangan pikiran, biasanya akan memperparah depresi. Apabila berulang-ulang mengalami kegagalan dalam ereksi, maka akan kian memperburuk kondisi caleg sehingga terjadi impotensi.
Depresi berat itu sendiri terjadi akibat ketidakseimbangan antara kehendak hati, pikiran, dan fisik. "Ketidakseimbangan antara keinginan begitu menggebu-gebu, memikirkan harta yang sudah dikeluarkan serta hasil yang tidak memuaskan sehingga timbul distorsi dalam tubuh. Ujung-ujungnya bukan hanya impotensi, bahkan termasuk gangguan kejiwaan," kata dia.
Jadi bisa diperkirakan bahwa usai pemilu legislatif nanti, akan banyak caleg yang mengalami impotensi akibat beban berat fisik serta psikis.
3 Jalan Keluar Bagi Dampak Buruk Pemilu
Kekhawatiran akan ada caleg yang mengalami depresi berat pasca-Pemilu 2009 bukan tanpa alasan karena becermin pada pengalaman pemilu sebelumnya. Pada Pemilu 2004 beberapa caleg sempat mendapat pelayanan di rumah sakit. Pada Pemilu 2004 jumlah parpol hanya 24, sementara pada Pemilu 2009 mencapai 38 parpol. Khusus untuk DPRD Kaltim, jumlah kursi yang diperebutkan dari 45 menjadi 55 kursi akibat pertambahan jumlah pemilih (penduduk).(Sumber : www.kompas.com ). Untuk mempersiapkan para caleg (calon anggota legislatif) yang gagal dalam pemilu dan terkena depresi, sejumlah paranormal di Kabupaten Tegal mempersiapkan terapi. Bahkan Padepokan Alwaha Desa Bumiwah Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal telah mempersiapkan 50 kamar untuk para caleg yang terkena depresi tersebut.
Pengelola Padepokan Alwaha, Bahril Ulum di Kalimantan Timur, kemarin mengatakan, untuk mengantisipasi kemungkian terjadinya para caleg yang mengalami depresi akibat kekalahan dalam Pemilu Legislatif 9 April nanti, pihaknya telah menyiapkan 50 ruangan khusus bagi para caleg yang gagal dalam pemilu dan mengalami depresi atau gila tersebut. Mengantisipasi hal itu, kata dia, sepenuhnya tergantung pada kesiapan mental dari setiap caleg dalam menghadapi hasil perhitungan suara Pemilu 2009. Jadi tergantung dari kesiapan mental, agama, serta seberapa besar harta yang dikeluarkan pada prapemilu (kampanye). Mungkin bagi yang uangnya banyak tidak masalah. Namun, bagi mereka (caleg) yang habis-habisan mengeluarkan harta tapi gagal meraih kursi, disertai mental yang tidak cukup kuat, maka bisa mengalami depresi berat dan impotensi," kata dia.Pengobatan impotensi tergantung faktor penyebabnya sehingga dibutuhkan keterbukaan, komunikasi, dan kerja sama, baik dengan istri maupun terhadap dokter.Lain padang lain ilalang. Lain di Kabupaten Tegal, lain lagi di Solo. Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Solo berencana menyiapkan bangsal khusus bagi pasien gangguan jiwa termasuk para caleg yang gagal terpilih.Menurut Direktur RSJD Surakarta, dr. Muhammad Sigit WP, Sp.KJ di Solo, Senin (30/3), ''gagasan penyiapan bangsal ini sedikit banyak ada kaitannya dengan potensi dampak psikologi akibat Pemilu 2009.''
Pasca Pemilu 2009 diprediksi bakal terjadi peningkatan pasien gangguan jiwa, di antaranya para caleg yang tidak terpilih, ujarnya.
Dia menambahkan, saat ini para caleg tengah berlomba meraih simpati massa. Tidak hanya tenaga dan materi, namun pikiran juga ikut terforsir, sejak persiapan kampanye dimulai Juli 2008.
Setelah hampir sembilan bulan memusatkan perhatian dalam kampanye, katanya, besar kemungkinan kegagalan mereka dalam memperebutkan kursi dewan sebagai anggota legislatif akan menimbulkan depresi dan gangguan jiwa.
Untuk itu RSJD Solo telah menyiapkan tambahan sembilan bangsal khusus dengan fasilitas VVIP dan VIP. Bangsal tersebut akan diresmikan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, Selasa (31/3).
Tarif untuk bangsal VVIP Rp. 200.000,00 per hari, bangsal VIP A Rp. 150.000,00 per hari, bangsal VIP B Rp. 125.000,00 per hari. Tarif tersebut meliputi pelayanan jasa dan akomodasi, namun untuk obat-obatan ditanggung sendiri oleh pasien, katanya.
Menurut Kepala Bidang Keperawatan, Sukardi, sebelumnya sudah ada puluhan kamar di beberapa bangsal untuk menampung pasien gangguan jiwa, yang terdiri dari bangsal-bangsal dengan kamar kelas 2, 3 dan VIP.
Sedangkan untuk meningkatkan pelayanan terhadap pasien baru, terutama calon legislatif yang mengalami depresi atau gangguan jiwa karena gagal terpilih, pihak RSJD Solo telah menyiapkan tim khusus.
Tim itu terdiri dari lima orang psikiater, enam orang psikolog, tiga ahli terapi sosial, dua orang ahli terapi religius, ditambah enam perawat profesional lulusan S1 bersertifikat. Atau di Rumah Sakit Sanglah di Bali misalnya, sudah menyiapkan 100 kamar mulai dari yang berkelas internasional sampai kelas ekonomi yang menurut seorang dokter yang bertanggung jawab atas pelayanan rumah sakit itu disiapkan untuk menampung caleg-caleg yang sudah keluar uanga ratusan juta hingga milyaran yang berpotensi stress karena gagal menjadi anggota dewan. Kelas-kelas kamar di rumah sakit itu sengaja dipersiapkan sedemikian rupa untuk menyesuaikan tarifnya dengan variasi kemampuan dana para mantan caleg yang habis-habisan sebelum pemilu. Kali ini tinggi rendahnya kelas kamar yang bisa mereka huni di rumah sakit ini sangat tergantung sisa dana yang mereka punya pasca Pemilu yang gagal mereka menangi. Kemudian di Purbalingga, ada klinik alternatif HS Mustajab. Pemilik klinik ini yang bernama Supono begitu yakin dengan besar dan menggiurkannya potensi bisnisnya pasca pemilu yang sekarang sudah berakhir. Karena sedemikiann yakinnya akan kebanjiran Pasien, Supono berani membangun kamar-kamar baru di kliniknya sebagai persiapan 'panen raya' pasca Pemilu. Potensi ekonomi yang dihadirkan para mantan caleg pasca Pemilu ini bukanlah sekedar olok-olok semacam April Mop yang megada-ada, tapi potensi ekonomi ini memang nyata adanya. Ujang Rustomi seorang pemilik klinik terapi jiwa alternatif di cirebon sudah mulai menangguk manfaat ekonomi dari para mantan Caleg pasca Pemilu. Kemarin dia mendapat seorang pasien berinisial AR, mantan Caleg sebuah partai yang stress karena suara yang dia dapat dalam pemilu tidak cukup signifikan untuk mendapatkan sebuah kursi Dewan, sementara dia sudah keluar uang ratusan juta. Rumah sakit Sanglah di Bali juga sudah sangat tepat menyiapkan antisipasinya, karena di Bali memang ada potensi besar manfaat ekonomi dari para caleg gagal ini, kemarin sudah ada seorang perempuan, mantan caleg dari Hanura yang meninggal dunia akibat serangan jantung saat mendengar perolehan suaranya tidak sesuai dengan yang diharapkan.


2. 4 Kajian Psikologi

Depresi berbeda dengan stress. dalam buku Psychology for Living yang ditulis oleh Psikolog Eastwood Atwater dan Karen Grover Duffy, stress adalah respon yang muncul dari dalam diri kita akibat keadaan yang kita rasakan tidak nyaman. Sedangkan depresi adalah kondisi mood yang ditandai dengan perasaan sedih, tertekan, dan merasa tidak berdaya. Kondisi ini berulang dan berlangsung dalam waktu yang lama, bisa beminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.
Apabila rasa stress tidak segera diatasi maka akan berlanjut pada depresi. Bahayanya, orang yang merasa depresi berat karena dibiarkan dan tidak diatasi, cenderung memiliki keinginan untuk mengakhiri hidupnya atau bunuh diri.
Cukup sulit untuk mengetahui apakah seseorang menderita depresi atau hanya sekedar stress sesaat. Untuk mengetahui apakah orang tersebut termasuk menderita depresi, perlu dicek dalam daftar dibawah ini. Apabila orang tersebut mengalami lima dari sembilan tanda berikut, berarti dapat disimpulkan ia mengalami depresi.

1. Mood dalam keadaan tertekan, berbeban berat, merasa sedih yang berkepanjangan,
dan adanya perasaan kosong atau hampa.
2. Minat untuk melakukan aktivitas menjadi kurang dan tidak ada semangat dalam
melakukan apapun, padahal biasanya minat beraktifitas sangat tinggi dan
bersemangat.
3. Berat badan jadi bertambah atau turun sebanyak 5% dari berat badan semula
(normal).
4. Pola tidur berubah. Bisa juga menderita kesulitan tidur atau insomnia bahkan
sebaliknya merasa kebanyakan tidur.
5. Kondisi tubuh jadi cepat merasa lelah dan merasa tidak berenergi.
6. Adanya perasaan menjadi orang yang tidak berguna dan tidak bergaharga,
cenderung untuk meremehkan diri sendiri dan putus asa.
7. Sulit berkonsentrasi dan menjadi lamban dalam berpikir.
8. Adanya penurunan pada aktivitas fisik.
9. Muncul keinginan untuk bunuh diri.

Depresi intinya hanya dapat diselesaikan atau diatasi oleh diri kita sendiri, bukan oleh obat-obatan atau orang lain. Memang obat-obatan dan orang lain (psikiater) bisa membantu kita untuk mengatasi depresi tapi yang terutama adalah kesadaran kita bahwa kita sedang mengalami depresi, kejujuran akan diri sendiri dan adanya keinginan untuk menghentikan depresi itu sendiri

2. 5 Mengatasi Gangguan Kejiwaan Pasca Pemilu

Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah:

1. Rajin beribadah.

Kebanyakan orang yang mengalami depresi pasti sedang memiliki tekanan berat dalam hidupnya. Tekanan berat ini membuat seseorang yang sebelumnya rajin beribadah menjadi kurang dan jarang beribadah. Apalagi kalau seseorang tersebut memang tidak pernah beribadah, maka akan makin menjadi-jadi merasa tertekan. Lebih baik untuk memulai kembali hubungan pribadi dengan Tuhan lewat membiasakan diri beribadah, karena Tuhan yang menciptakan manusia, hanya Tuhan yang merupakan dokter paling hebat diseluruh muka bumi ini bahkan di seluruh dunia. Minta petunjuk dan pemulihan diri dari Tuhan, karena tidak ada yang mustahil bagiNya.

2. Ubah cara pandang terhadap sesuatu.

Seringkali seseorang memandang masalah yang sepele seolah-olah seperti dunia sudah mau kiamat. Ini yang sering kali menyebabkan seseorang mudah depresi, karena merasa diri sendiri dan merasa memiliki masalah yang paling berat sedunia, seolah-olah semua ruangan gelap gulita dan semua pintu tertutup. Padahal tidak sebegitunya. Jadi perlu untuk mengubah cara kita dalam memandang sesuatu masalah. Perlu untuk menanamkan pada diri sendiri bahwa kita sanggup mengatasi masalah itu. Walaupun mungkin saat ini jalan keluarnya masih belum kita temukan, tapi percaya dan tanamkan dalam diri kita bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya




3. Cari hiburan untuk diri sendiri.

Pada saat kita merasa menghadapi masalah yang berat dan merasa begitu tertekan karenanya, cari alternatif yang bisa membuat kita untuk merasa sedikit terhibur, seperti menonton film kartun, film komedi, membaca buku, pergi jalan-jalan bersama teman-teman maupun keluarga, kegiatan apa saja yang bisa membuat kita tertawa dan sedikit merasa lega, sehingga beban kita sedikit agak ringan. Memang masalah tidak akan selesai dengan mencari hiburan, tapi setidaknya kita bisa menarik nafas lebih dalam dengan lega dan tenang lalu memiliki kesegaran dan semangat baru untuk menghadapi masalah dan menyelesaikannya.


4. Sharing atau curhat dengan orang lain.

Sangat baik sekali apabila kita mau berbagi dengan orang lain. Walaupun mungkin orang tersebut tidak bisa memberikan solusi atau membantu kita mencari jalan keluar dan menyelesaikan masalah kita atau menghilangkan beban dari pundak kita, setidaknya membagikan apa yang kita rasakan membuat kita tidak merasa sendiri. Walaupun mungkin orang tempat kita berbagi cerita hanya mendengarkan, setidaknya ini efektif untuk mengurangi rasa cemas, khawatir, dan ketakutan serta rasa tertekan yang sebelumnya sangat berat. Selain itu kita juga bisa mendapatkan sudut pandang yang berbeda.


5. Cari inspirasi.

Seringkali saat kita merasa tertekan, kita akan mengalami keadaan yang kita sebut akal buntu sehingga kita cenderung kehabisan akal dan lantas putus asa. Ini tidak meringankan masalah atau menyelesaikannya, justru semakin memperparah kondisi depresi kita. Membaca buku-buku motivasi atau buku-buku yang bisa membantu kita untuk mendapat inspirasi guna menyelesaikan masalah kita. Saat kita tertekan, pikiran kita cenderung hanya fokus pada masalah yang kita anggap berat sehingga sering kali kita tidak melihat pintu keluar yang terbuka. Buku-buku motivasi dan sejenisnya ini seringkali memberikan ide-ide kreatif yang baru atau inspirasi bagi kita.

6. Jangan pernah berniat negatif.

Ini yang paling tak kalah pentingnya, jangan pernah berniat untuk melakukan hal-hal negatif. Hal ini tidak akan membantu kita menyelesaikan masalah atau meringankannya, justru membuatnya semakin buruk dan kacau. Malah bisa jadi menambah masalah baru bagi kita. Misalnya saat kita sore hari merasa tertekan dan ingin memilih untuk melakukan hal-hal yang tidak baik, kita bisa memilih untuk olah raga atau sekedar jalan santai mengelilingi lingkungan perumahan. Atau kita bisa berolahraga pagi hari atau saat-saat lainnya. pada saat kita berolahraga, tubuh kita menghasilkan zat-zat tertentu yang membuat toleransi tubuh saat kita sedang menghadapi masalah, dan pada saat kita stress, kondisi emosi kita akan lebih terkontrol.
Jika sekiranya cara-cara diatas kurang memberikan efek bagi pemulihan dari depresi, seseorang bisa berkonsultasi dengan psikolog. Jangan malu untuk konsultasi ke psikolog, karena orang yang berkonnsultasi ke psikolog bukan berarti orang gila.
Depresi bisa dicegah. Caranya pertama, kita harus selalu berpikir positif dalam menjalani hidup kita. Pikiran positif membantu kita mengurangi beban saat kita menghadapi suatu masalah. Memang sulit untuk bersyukur saat kita mengalami masalah, tapi kalau kita mau menjadikan pikiran positif sebagai kebiasaan dan gaya hidup, saat kita mengalami masalah, kita tidak akan berfokus pada kerugian dan beban dari masalah tersebut tapi kepada sisi baiknya. Percaya dibalik setiap masalah yang datang ada sisi baiknya yang bisa kita pelajari.
Kedua, jangan mendiamkan masalah atau mencari pelarian. Segera selesaikan masalah yang datang dan jangan langsung menyalahkan diri sendiri apalagi menyalahkan orang lain.
Ketiga, selesaikan masalah yang kita alami dengan konstruktif. Misalnya jangan menambah masalah yang sudah ada dan selesaikan dengan jalan yang tepat dan positif. Kalau kita mencari pengalihan dari masalah atau pelarian, ini tidak konstruktif, dan justru membuat masalah lain berdatangan. Tambah stress kan??!!!

Keempat, berbagi dengan orang lain (curhat/sharing) untuk mencari sudut pandang yang berbeda dari sudut pandang kita. Terkadang kita menganggap masalah kita berat padahal menurut orang lain tidak. Ini dapat membantu kita untuk lebih rileks dan erhindar dari stress apalagi depresi.
Wajib bagi kita sebagai mahluk sosial, yang derajatnya Tuhan ciptakan lebih tinggi dibandingkan mahluk lainnya, untuk saling membantu. Apabila kita memiliki atau mengetahui teman kita sedang menderita depresi, jangan didiamkan saja.
Taukah kita kalau kita membiarkan orang lain terkena masalah atau membiarkannya dalam masalah tanpa membantunya, padahal kita bisa, itu sama dengan kita berdosa dihadapan Tuhan?
Coba kalau kita sudah waktunya makan dan kita bisa makan tapi kita malas dan tidak mau makan, maka lambung kita akan sakit dan kita akan menderita penyakit maag akut. Begitu pula saat teman kita sedang menderita depresi dan kita bisa membantunya tapi kita tidak mau membantu, justru malah makin membuat penderitaannya parah. Tidak taukah kalau kita hanya sekedar duduk mendengarkan pun sudah mengurangi seperempat dari rasa beban teman kita yang sedang memiliki masalah?!
Jadi, kalau teman kita sedang mengalami depresi, pertama kita bisa menawarkan diri untuk menjadi teman curhatnya. Kalau dia awalnya tidak mau dan menolak, coba untuk menawarkan diri terlebih dahulu untuk mengajak dia sharing atau sekedar ngobrol. Kalau orang lain merasa kita bisa terbuka dengannya, pasti dia mau terbuka dengan kita. Dan yang penting, jadi pendengar setianya. Kalau dia mau menangis, biarkan dia menangis. Tidak perduli cewek atau cowok, kalau saat kita merasa berbeban berat dan kita menangis, itu bisa sedikit menguranginya.
Perlu diingat, saat seseorang mengalami depresi, ia merasakan sendiri, walau ditengah orang banyak sekalipun, maka sebenarnya orang yang mengalami depresi membutuhkan dukungan dari orang lain.
Kedua, ajak dia melakukan kegiatan positif sehingga perhatiannya sedikit teralihkan dari masalah yang terus menerus menjadi fokus perhatiannya. Kita bisa mengajaknya jalan pagi bareng, olah raga bareng, pergi nonton, sekedar jalan-jalan ke mall, makan di restoran favoritnya, dll. Saat perhatiannya sedikit teralihkan dari masalahnya, maka pikirannya akan sedikit fresh dan segar sehingga saat ia kembali kepada fokus masalahnya, bebannya sedikit berkurang, karena ia telah sedikit rileks sebelumnya.
Ketiga, beri dia perhatian. Kita bisa menelponnya atau mengirimkan sms sekedar untuk menanyakan kabarnya. Pastikan keadaannya baik-baik saja. Kita bisa memberikan dia pesan-pesan lucu yang bisa membuat dia tertawa. Baik untuk melakukan hal ini sebelum dia tidur, agar ia tidak kembali memikirkan masalahnya dengan berlebihan.
Keempat, kalau dia telpon, please diangkat dan dengarkan perkataannya. Kalau dia mau sharing atau curhat, dengarkan dan jangan diacuhkan.
Kelima, kalau kita merasa kesedihannya terlalu berkepanjangan, dan segala usaha yang kita lakukan sudah tidak memberikan hasil yang optimal, ajak dia berkonsultasi ke psikolog.

Pancasila Sebagai Sistem Filsafat

OLEH: LASYITHA ANINDIYA


Pengertian Filsafat

Kata dan istilah filsafat didalam bahasa Arab adalah Falsafah. Secara etimologi kata falsafah berasal dari bahasa Yunani philosophia, yang terdiri atas dua suku kata yakni philen yang artinya mencari atau mencintai dan Sophia, artinya kebenaran atau kebijaksanaan.
Jadi philosophias berarti daya upaya pemikiran manusia untuk mencari kebenaran atau kebijaksanaan. Dari istilah tersebut jelas bahwa orang yang berfilsafat ialah orang yang mencintai kebenaran atau mencari kebenaran dan bukan memiliki kebenaran.
Sumber dari filsafat yang ada didunia ini sesuai dengan istilahnya adalah manusia, dalam hal ini akal dan pikiran manusia yang sehat, yang berusaha keras dengan sungguh-sunguh mencari kebenaran dan akhirnya mendekati kebenaran. Oleh karena itu manusia adalah mahluk Tuhan, meskuipun manusia itu tinggi martabatnya, akan tetapi tidak sempurna. Maka kebanran yang dapat dicapai oleh akal pikiran manusia tidak sempurna adanya. Bila dikaji kebenaran itu relatif sifatnya, karena apa yang dianggap benar pada waktu sekarang ini, mungkin pada masa mendatang hal itu tidak benar lagi. Ini tidak berarti bahwa setiap hasil pemikran manusia itu tak ada yang benar, semuanya serba salah. Tidak !! Hasil pemikiran manusia itu kebenarannya tidak mutlak. Jadi kebenaran mutlak adalah ditangan Tuhan Yang Maha Esa. Mencari kebenaran dan dan tidak memiliki kebanaran itulah tujuan semua filsafat, akhirnya mendekati kebenaran sebagai kesungguhan. Tetapi kebenaran yang sesungguhnya atau mutlak hanya ada pada Tuhan Yang Maha Esa.
Sedangkan ajaran agama atau agama- agama samawi yang mempunyai kitab suci bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa, yang disampaikan kepada seluruh umat manusia untuk menjadi pedoman hidupnya melalui wahyu dengan perantara Rasul-rasul- Nya atau utusan Tuhan.Ajaran-ajaran agama mengandung kebenaran mutlak bersifat sempurna dan lengkap isinya serta berlaku secara universal, tidak terikat ruang dan waktu. Ajaran agama lebih luas dan lengkap isinya, baik kaidah-kaidah pokok, norma-norma kebenaran, petunjuk-petunjuk secar a teknik maupun sanksi-sanksinya yang tegas dan jelas atau pahala dan dosa serta siksa tercantum didalamnya.
Dalam arti praktis, filsafat ialah alam berpikir atau alam pikiran. Berfilsafat ialah berpikir, tetapi berpikir secara mendalam, artinya berpikir sampai ke akar-akarnya dan sungguh-sungguh tentang hakikat sesuatu
Beberapa definisi Filsafat :
1. Plato (427 SM-348 SM). Ahli Filsafat Yunani, Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli.
2. Aristoteles (382-322 SM), murid Plato : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, poltik dan estetika
3. Al Farabi (870-950 M) : Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam wujud bagaimana hakikat yang sebenarnya.

Fungsi Filsafat

• Filsafat sangat berguna karena dengan belajar filsafat, kita semakin mampu mengani pertanyaan-pertanyaan mendasar (makna realitas dan tanggung jawab) yang tidak terletak dalamwewenang metode ilmu khusus.
• Berfilsafat mengajak manusia bersikap arif, berwawasan luas terhadap berbagai problem yang dihadapi. Manusia diharapkan mampu memecahkan problem tersebut dengan cara mengientifikasikannya agar jawaban-jawaban dapat diperoleh dengan mudah
• Filsafat dapat membentuk pengalaman kehidupan secara kreatif atas dasar pandangan hidup atau ide-ide yang muncul karena keinginannya.
• Filsafat dapat membentuk sikap kritis seseorang dalam menghadapi permasalahan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun kehidupan lainnya secara lebih rasional, arif dan tidak terjebak dalam fanatisme yang berlebihan
• Kemampuan menganalisis, yaitu analisi kritis secara komprehensif dan sintesis atas berbagai permasalahan ilmiah yang dituangkan dalam suatu riset atau kajian ilmiah lainnya. Filsafat dilaksanakan dalam suatu suasana pengetahuan yang mementingkan konterol atau pengawasan. Oleh karena itu, nilai ilmu pengetahuan timbul dari fungsinya, sedangkan fungsi filsafat timbul dari nilainya.
Pancasila Dalam Pendekatan Filsafat
Untuk mengetahui secara memndalam tentang Pancasila, perlu pendekatan filosofis. Pancasila dalam pendekatan filsafat adalah ilmu pengetahuan yang mendalam mengenai Pancasila. Filsafat Pancasila dapat didefenisikan secara ringkas sebagai refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila dalam bangunan bangsa dan negara Indonesia ( Syarbaini dalam Winarno). Untuk mendapatkan pengertian yang mendalam dan mendasar, kita harus mengetahui sila-sila yang membentuk Pancasila itu. Berdasarkan pemikiran filsafati, Pancasila sebagai filsafat pada hakikatnya merupkan suatu nilai ( Kaelan dan Winarno). Rumusan Pancasila sebagaimana terdapat dalam pembukaan UUD 1945 Alenia IV adalah sebagai berikut :
1. Ketuhanan Yang Maha ESa
2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusuwaratan / Perwakilan
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Kelima sila dari Pancasila pada hakikat nya adalah satu nilai. Nilai-nilai merupakan perasan dari Pancasila tersebut adalah :
1. Nilai Ketuhanan
2. Nilai Kemanusiaan
3. Nilai Persatuan
4. Nilai Kerakyatan
5. Nilai Keadilan
Nilai itu selanjutnya menjadi sumber nilai bagi penyelenggaraan kehidupan bernegara Indonesia. Apakah nilai itu sebenarnya? Secara etimologi, nilai berasal dari kata value (Inggris) yang berasal dariu kata valere (Latin) yang berarti : kuat, baik, berharga. Dengan demikian secara sederhana, nilai (value) adalah sesuatu yang berguna. Nilai bersifat abstrak, seperti sebuah ide, dalam arti tidak dapat ditangkap melalui indra, yang dapat ditangkap adalah objek yang memiliki nilai. Nilai juga mengandung harapan akan sesuatu yang diinginkan. Nilai bersifat normative, suatu keharusan (das sollen) yang menuntut diwujudkan dalam tingkah laku. Nilai juga menjadi pendorong/motivator hidup manusia.
Dalam filsafat Pancasila terdapat 3 (tiga) tingkatan nilai, yaitu nilai dasar, nilai instrumental dan nilai praktis.
1. Nilai Dasar
Nilai yang mendasari nilai instrumental. Nilai dasar yaitu asas-asas yang kita terima sebagai dalil yang bersifat sedikit banyak mutlak. Kita menerima nilai dasar itu sebagai sesuatu yang benar atau tidak perlu dipertanyakan lagi. Nilai-Nilai dasar sandiri dalam Pancasila adala Nilai-nilai dari sila-sila Pancasila. Nilai dasar itu mendasari semua aktivitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Nilai dasar bersifat fundamental dan tetap
2. Nilai Instrumental
Nilai sebagai pelaksanaan umum dari nilai dasar. Umumnya terbentuk norma sosial dan norma hukum yang selanjutnya akan terkristalisasi dalam peraturan dan mekanisme lembaga-lembaga negara.
3. Nilai Praksis
Nilai yang sesungguhnya kita laksanakan dalam kenyataan. Nilai Praksis sesungguhnya menjadi batu ujian, apakah nilai dasar dan nilai instrumental itu benar-benar hidup dalam masyarakat Indonesia.

PANCASILA SEBAGAI FILSAFAT DAN IDENTITAS NASIONAL

oleh: LASYITHA ANINDIYA

A. PANCASILA SEBAGAI FILSAFAT

Kata filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitu falsafah. Secara etimologi kata falsafah berasal dari bahasa Yunani philosophia, yang terdiri atas dua suku kata yakni philen yang artinya mencari atau mencintai dan Sophia, artinya kebenaran atau kebijaksanaan. Jadi philosophia berarti daya upaya pemikiran manusia untuk mencari kebenaran atau kebijaksanaan.
Dalam arti praktis, filsafat ialah alam berpikir atau alam pikiran. Berfilsafat ialah berpikir, tetapi berpikir secara mendalam, artinya berpikir sampai ke akar-akarnya dan sungguh-sungguh tentang hakikat sesuatu.
Beberapa definisi Filsafat :
1. Plato (427 SM-348 SM). Ahli Filsafat Yunani, Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli.
2. Aristoteles (382-322 SM), murid Plato : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, poltik dan estetika
3. Al Farabi (870-950 M) : Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam wujud bagaimana hakikat yang sebenarnya.
Setiap bangsa berbudaya dan beradab menegakkan sistem kenegaraannya berdasarkan suatu sistem filsafat yang terjabar dan ditegakkan dalam konstitusi negara. Identitas dan integritas sistem kenegaraannya tersebut memancarkan ajaran dan nilai fundamental sistem filsafat dan atau sistem ideologi negaranya.
Identitas, integritas dan keunggulan sistem filsafat terpancar dari asas bagaimana bangsa itu menghargai kedudukan, potensi dan martabat manusia sebagai subyek di dalam Negara. Dalam hal ini kedudukan Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia adalah dalam pengertian sebagai dasar filsafat. Sifat kefilsafatan dari dasar negara Indonesia terwujudkan dalam rumus abstrak dari kelima sila Pancasila.
Filsafat Pancasila dapat didefenisikan secara ringkas sebagai refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila dalam bangunan bangsa dan negara Indonesia ( Syarbaini dalam Winarno). Untuk mendapatkan pengertian yang mendalam dan mendasar, kita harus mengetahui sila-sila yang membentuk Pancasila itu. Berdasarkan pemikiran filsafati, Pancasila sebagai filsafat pada hakikatnya merupkan suatu nilai ( Kaelan dan Winarno). Rumusan Pancasila sebagaimana terdapat dalam pembukaan UUD 1945 Alenia IV adalah sebagai berikut :
1. Ketuhanan Yang Maha ESa
2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusuwaratan / Perwakilan
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Kelima sila dari Pancasila pada hakikatnya adalah satu nilai. Nilai-nilai merupakan perasan dari Pancasila tersebut adalah :
1. Nilai Ketuhanan
2. Nilai Kemanusiaan
3. Nilai Persatuan
4. Nilai Kerakyatan
5. Nilai Keadilan
Nilai itu selanjutnya menjadi sumber nilai bagi penyelenggaraan kehidupan bernegara Indonesia. Apakah nilai itu sebenarnya? Secara etimologi, nilai berasal dari kata value (Inggris) yang berasal dariu kata valere (Latin) yang berarti : kuat, baik, berharga. Dengan demikian secara sederhana, nilai (value) adalah sesuatu yang berguna. Nilai bersifat abstrak, seperti sebuah ide, dalam arti tidak dapat ditangkap melalui indra, yang dapat ditangkap adalah objek yang memiliki nilai. Nilai juga mengandung harapan akan sesuatu yang diinginkan. Nilai bersifat normative, suatu keharusan (das sollen) yang menuntut diwujudkan dalam tingkah laku. Nilai juga menjadi pendorong/motivator hidup manusia.

Pancasila disebut filsafat karena Pancasila memenuhi ciri-ciri sebagai filsafat yakni :
1. Sistematis
2. Fundamental
3. Universal
4. Integral
5. Radikal mencari kebenaran yang hakiki

Beberapa Pendapat bahwa Pancasila merupakan Sistem Filsafat :
1. Muh. Yamin (1962)
“Ajaran pancasila tersusun secara harmonis dalam suatu sistem filsafat”
2. Soediman Kartahadiprojo (1969)
“Pancasila disajikan sebagai pidato untuk memenuhi permintaan memberikan
dasar filsafat negara…..”
3. Drijarkoro (1957)
“….dengan semua itu kita hendak mengemukakan bahwa Pancasila sudah lama merupakan weltanshauung bagi bangsa Indonesia tetapi tanpa dirumuskan sebagai filsafat sehingga perlu….”
4. Notonagoro (1976)
“Kata-kata ‘dengan berdasar kepada” dalam pembukaan UUD 45 menentukan kedudukan Pancasila dalam negara dalam pengertian dasar filsafat.
5. Roeslan Abduoelgani (1962)
“Pancasila adalah filsafat negara yang lahir sebagai collection ideologis dari seluruh bangsa Indonesia.”

Berdasarkan ajaran filsafat Pancasila, terutama tentang kedudukan dan martabat kepribadian manusia, maka oleh pendiri negara (PPKI) dengan musyawarah mufakat ditetapkan dan disahkan sistem kenegaraan Indonesia merdeka, sebagai terumus dalam UUD Proklamasi 1945 seutuhnya. Karenanya, NKRI berdasarkan Pancasila, UUD 45 dapat kita namakan dengan predikat sebagai sistem kenegaraan Pancasila, sebagaimana terjabar dalam UUD Proklamasi 1945 untuk dibandingkan dan dibedakan dengan UUD 45 amandemen, dan atau UUD RI 2002.
Memahami sistem kenegaraan Pancasila seutuhnya, akan signifikan melalui memahami sejarah Proklamasi dan UUD Proklamasi 45 seutuhnya. Di dalam Pembukaan UUD negara kita, tentang kedaulatan rakyat, terlukis dalam kutipan berikut:
“......susunan negara Republuk Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Berdasarkan kepercayaan dan cita-cita bangsa Indonesia, maka diakui nilai filsafat Pancasila mengandung multi - fungsi dalam kehidupan bangsa, negara dan budaya Indonesia.
Kedudukan dan fungsi nilai dasar Pancasila, dapat dilukiskan sebagai berikut:










Dalam filsafat Pancasila terdapat 3 (tiga) tingkatan nilai, yaitu nilai dasar, nilai instrumental dan nilai praktis.

1. Nilai Dasar
Nilai yang mendasari nilai instrumental. Nilai dasar yaitu asas-asas yang kita terima sebagai dalil yang bersifat sedikit banyak mutlak. Kita menerima nilai dasar itu sebagai sesuatu yang benar atau tidak perlu dipertanyakan lagi. Nilai-Nilai dasar sandiri dalam Pancasila adala Nilai-nilai dari sila-sila Pancasila. Nilai dasar itu mendasari semua aktivitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Nilai dasar bersifat fundamental dan tetap.

2. Nilai Instrumental
Nilai sebagai pelaksanaan umum dari nilai dasar. Umumnya terbentuk norma sosial dan norma hukum yang selanjutnya akan terkristalisasi dalam peraturan dan mekanisme lembaga-lembaga negara.

3. Nilai Praksis
Nilai yang sesungguhnya kita laksanakan dalam kenyataan. Nilai Praksis sesungguhnya menjadi batu ujian, apakah nilai dasar dan nilai instrumental itu benar-benar hidup dalam masyarakat Indonesia.


B. PANCASILA SEBAGAI IDENTITAS NASIONAL

Pancasila adalah identitas bangsa Indonesia. Di dalam pancasila terkandung nilai-nilai yang dianggap sebagai nilai yang baik, luhur dan dianggap menguntungkan masyarakat sehingga nilai tersebut dapat diterima. Pancasila digambarkan sebagai seperangkat nilai yang dianggap benar, baik dan adil dan menguntugkan itu dijadikan nilai bersama. Apabila sekelompok masyarakat bangsa menjadikan nilai dalam pancasila sebagai nilai bersama maka pancasila tersebut telah menjadi ideologi bangsa atau identitas nasional bangsa Indonesia.
Sejak negeri ini diproklamasikan sebagai negara merdeka, telah sepakat menjadikan Pancasila sebagai dasar negara dan pedoman hidup berbangsa dan bernegara. Konsekuensinya, Pancasila harus terus hidup dalam kehidupam masyarakat, lebih optimal sebagai kekuatan pemersatu bangsa. Pancasila harus menjadi perekat perbedaan kultur yang terbangun dalam masyarakat plural. Menjadi identitas bersama oleh semua kelompok masyarakat, bisa juga dimaknai sebagai identitas nasional yang bisa menjadi media dalam menjembatani perbedaan yang muncul.
Sayangnya, eksistensi Pancasila sebagai identitas nasional tidak difungsikan secara maksimal. Pancasila tidak lagi mewarnai setiap aktivitas yang berlangsung di tengah masyarakat. Pancasila bahkan tidak lagi ramai dipelajari oleh generasi muda. Pengaruh kekuasaan orde baru yang menjadikan Pancasila sekedar sebagai simbol, dan upaya memperkuat kekuasaannya. Menjadikan sosialisasi P4 (pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila) hanya mampu menghasilkan generasi cerdas penghafal nilai-nilai Pancasila dan para penatar ahli. Selain tidak mampu mengamalkannya, justru mereka sendiri yang mencedrainya. Tidak heran jika peningkatan pengetahuan tentang Pancasila seiring dengan tidakan korupsi dan ramainya pelanggaran hak-hak kemanusiaan. Belum lagi implementasi demokrasi Pancasila sebagai icon orde baru, masih sangat jauh dari sistem demokrasi yang berbasis kedaulatan rakyat.
Tidak jauh beda dengan perilaku pemerintahan era reformasi. Pancasila dibiarkan tenggelam dari kehidupan masyarakat. Bukan hanya jauh dari wacana publik, Pancasila dianggap sebagai simbol orde baru semakin dilupakan oleh penguasa termasuk elit politik kita. Eforia demokrasi yang tidak terkendali juga semakin mengaburkan nilai-nilai Pancasila.
Realitas tersebut tentu sangat kontraproduktif dengan upaya penguatan Pancasila sebagai dasar negara. Lebih khusus lagi bagi upaya menjaga lestarinya NKRI di bumi persada. Kehadiran Pancasila tidak sekedar sebagai ideologi atau patron setiap warga negara, namun juga sebagai landasan bersama (common platform). Pancasila merupakan identitas nasional yang berperan mewadahi berbagai peredaan maupun konflik yang seringkali muncul dalam sub budaya nasional.
Terdapat dua hal urgensi Pancasila dalam konteks sekarang ini, hal tersebut bisa di lihat dalam konteks internal dan eksternal. Pertama, aspek internal yang teridiri dari tiga hal mendasar, yaitu:
(1) buruknya nama baik Pancasila oleh sejarah masa lalu mengharuskan adanya upaya serius untuk perbaikan
(2) dampak otonomi daerah telah melahirkan sentimen etnik dan provinsialisme yang semakin menguatkan kecendrungan pada local-nationalism
(3) sejak Pancasila tidak lagi menjadi asas tunggal dalam setiap organisasi manapun.

Tidak hanya melahirkan dikotomi antara Pancasila dan landasan organisasi khususnya pada tingkat pendukungnya (grass root), meski terlihat dalam tingkat wacana. Juga penguatan eksistensi Pancasila kurang dioptimalkan sebagai agenda utama atau common platform dalam kehidupan organisasi.
Aspek eksternal khusunya adalah pengaruh globalisasi. Selain dampak positif, globalisasi juga menawarkan sekian banyak pengaruh, bukan hanya disorientasi dan dislokasi sosial, tetapi juga bisa mengakibatkan memudarnya identitas dan jati diri bangsa. Nilai-nilai Pancasila yang mendasar seperti gotong-royong, secara tidak langsung telah banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai individualisme yang sangat liberal. Segalanya serba “uang” telah mewarnai setiap transaski sosial, politik apalagi aspek ekonomi. Dominasi gaya kapitalis dengan seperangkan ide-ide dan nilai yang tidak sesuai dengan budaya bangsa juga semakin marak. Gaya pornografi yang semakin mewarnai berbagai media merupakan salah satu contoh kongkrit.
Tidak ada kata terlambat bagi suatu perubahan dan perbaikan, apalagi itu menyangkut keselamatan bangsa dan keutuhan NKRI. Kesempatan ini harus dimanfaatkan secara optimal untuk melakukan revitalisasi semangat dan cita-cita para pendiri negara kita untuk membangun negara Pancasila. Berupaya semaksimal mungkin untuk memperkuat kesadaran hidup berbangsa dalam setiap aspek kehidupan.
Komitmen kita pada eksistensi Pancasila sebagai dasar Negara sudah final. Simbol pemersatu dan identitas nasional yang bisa diterima berbagai kalangan harus terus dijaga. Mengharuskan tidak ada pilihan lain, kecuali Pancasila mesti terus di suarakan, memulihkan nama baiknya dengan cara membumikan susbstansi dan nilai yang dikandungnya. Sebagai konsep dan nilai-nilai normatif, tentu jauh dari kekeliruan, hanya para aktor yang seringkali menyalahgunakannya. Menghidupkan kembali wacana publik tentang Pancasila bukan didasari romantisme historis dan kerinduan belaka terhadap masa lalu. Tapi, suatu fakta riil akan pentingnya identitas nasional dalam membingkai dinamika yang kompleks.

26.5.09

PSIKOLOGI SOSIAL

oleh : LASYITHA ANINDIYA

A. Pengertian Psikologi Sosial
Psikologi sosial merupakan cabang ilmu dari psikologi yang baru muncul dan intensif dipelajari pada tahun 1930. Secara sederhana objek material dari psikologi sosial adalah fakta-fakta, gejala-gejala serta kejadian-kejadian dalam kehidupan sosial manusia. Sekilas ternyata objek psikologi sosial mirip dengan ilmu sosiolgi dan bila digambarkan sebenarnya psikologi sosial adalah merupakan pertemuan irisan antara ilmo psikologi dan ilmu sosilogi.
Ada berbagai macam definisi psikologi sosial antara lain :
a. Psikologi sosial adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia (Hubert Bonner)
b. Ilmu yang memepelajari tingkah laku manusia sebagai anggota suatu masyarakat (AM Chorus)
c. ilmu yang mempelajari Segi-segi psikologi tingkah laku manusia yang dipengarui interaksi sosial
d. Social psychology is the scientific study how people think about, influence, and relato to another (Myers : 1983)
e. Psikologi sosial adalah studi alami tentang sebab-sebab dari perlaku sosial manusia (Michener & Delamater : 1999)
Gordon Allport (1968) menjelaskan bahwa seorang boleh disebut sebagai psikolog sosial jika dia "berupaya memahami, menjelaskan, dan memprediksi bagaimana pikiran, perasaan, dan tindakan individu-individu dipengaruhi oleh pikiran, perasaan, dan tindakan-tindakan orang lain yang dilihatnya, atau bahkan hanya dibayangkannya".


B. Pengertian dan Fungsi Attitude (Sikap)
Dalam arti sempit sikap adalah pandangan atau kecenderungan mental. Dalam pengertian lebih luas, attitude adalah kecenderungan yang relative stabil dan belangsung secara terus-menerus untuk bertingkah-laku atau untuk mereaksi dengan satu cara tertentu terhadap pribadi lain, objek, lembaga, atau persoalan tertentu.
Dilihat dari titik pandang yang sedikit berbeda, sikap (attitude) adalah kecendrungan untuk mereaksi terhadap orang, institusi atau kejadian, baik secara positif maupun negative.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Sikap adalah “ perbuatan dan sebagainya yang berdasarkan pendirian Sikap yang dalam Bahasa Inggris disebut Attitude adalah segala suatu yang bereaksi terhadap suatu perangsang.
Menurut Bruno (1987), sikap (Attitude) adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang. Sedangkan menurut Sherif ( 1956) mengartikan sikap dengan sejenis motif sosiogonis yang di peroleh melalui proses belajar. atau kemampuan internal yang berperan sekali mengambil tindakan, lebih – lebih bila terbuka berbagai kemungkinan untuk bertindak dan bersedia beberapa alternatif.
Sikap pada aspek afektif merupakan aspek yang menentukan seseorang bertindak, karena kemauan atau kerelaan bertindaklah yang menentukan seseorang berbuat sesuai dengan sikap yang dimilikinya. Namun demikian aspek yang yang lainnya ikut mempengaruhinya.
Sikap dapat didefinisikan sebagai kesiapan sesorang untuk bertindak secara tertentu terhadap hal – hal tertentu.

Fungsi attitude menurut Katz dakam buku Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya adalah sebagai berikut (dalam Azwar, 2005):
1. Fungsi Instrumental, Fungsi Penyesuaian, atau Fungsi Manfaat.
Dalam fungsi ini,individu dengan sikapnyaakan berusaha memaksimalkan hal-hal yang tidak diinginkannya. Individu akan membentuk sikap yang positive pada hal-hal yang dirasakannya akan mendatangkan keuntungan dan begitu juga sebaliknya, individu akan mamberikan sikap negative pada hal-hal yang dirasanya akan merugikan dirinya.
2. Fungsi Pertahanan Ego.
Dalam fungsi ini, sikap merefleksikan problem kepribadian yang tidak terselesaikan. Sewaktu individu mengaami hal yang tidak menyenangkan dan dirasa akan mengancam egonya atau sewaktu ia mengetahui fakta dan kebenaran yang tidak mengenakkan bagi dirinya maka sikapnya dapat berfungsi sebagai mekanisme pertahanan ego yang akan melindunginya dari kepahitan kenyataan tersebut.
3. Fungsi Pernyataan Nilai.
Dalam fungsi ini, sikap digunakan sebagai sarana ekspresi nilai sentral dalam dirinya karena individu mengembangkan sikap tertentu untuk memperoleh kepuasan dalam menyatakan nilai yang dianutmya yang sesuai dengan penilaian pribadi dan konsep dirinya.
4. Fungsi Pengetahuan.
Dalam fungsi ini, manusia mempunyai dorongan dasar untuk ingin tahu, untuk mencari penalaran, dan untuk mengorganisasikan pengalamannya. Jadi sikap berfungsi sebagai suatu skema, yaitu suatu cara strukturisasi agar dunia sekitar tampak logis dan masuk akal.

C. Pembentukan Attitude (Sikap)

Pembentukan sikap tidak terjadi demikian saja, melainkan melalui proses tertentu, melalui kontak sosial terus menerus antara individu dan individu dan orang di sekitarnya.
Adapun pembentukan sikap dapat dilakukan melalui empat macam cara :
a. Adopsi, yaitu kejadian – kejadian atau peristiwa yang terjadi berulang – ulang dan terus menerus lama kelamaan secara bertahap diserap ke dalam diri individu dan mempengaruhi pembentukan sikap.
b. Diferensiasi, yaitu dengan perkembangan intelegensi, bertambahnya pengalaman sejalan bertambahnya usia, maka ada hal yang tadinya dianggap sejenis, kemudian dipandang tersendiri lepas dari jenisnya.
c. Integrasi, yaitu pembentukan sikap, disini secara bertahap dimulai dari berbagai pengalaman yang berhubungan dengan suatu hal tertentu sehingga akhirnya berbentuk sikap mengenai hal tersebut.
d. Trauma, yaitu pengalaman yang tiba – tiba, mengejutkan, meninggalkan kesan mendalam pada jiwa orang yang bersangkutan. Pengalaman yang traumatis dapat juga terbentuknya sikap.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap:
1. Pengalaman pribadi
Dasar pembentukan sikap ialah dengan pengalaman pribadi harus meninggalkan kesan yang kuat. Sikap mudah terbentuk jika melibatkan faktor emosional.
2. Kebudayaan
Pembentukan sikap tergantung pada kebudayaan tempat individu tersebut dibesarkan. Contohnya adalah pada sikap orang kota dan orang desa terhadap kebebasan dalam pergaulan
3. Orang lain yang dianggap penting (Significant Otjhers)
Orang lain yang dimksud disini yaitu orang-orang yang kita harapkan persetujuannya bagi setiap gerak tingkah laku dan opini kita, orang yang tidak ingin dikecewakan, dan yang berarti khusus. Misalnya adalah orangtua, pacar, suami/isteri, teman dekat, guru, pemimpin. Umumnya individu tersebut akan memiliki sikap yang searah (konformis) dengan orang yang dianggap penting.
4. Media massa
Media massa berupa media cetak dan elektronik. Dalam penyampaian pesan, media massa membawa pesan-pesan sugestif yang dapat mempengaruhi opini kita. Jika pesan sugestif yang disampaikan cukup kuat, maka akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal hingga membentuk sikap tertentu.
5. Institusi / Lembaga Pendidikan dan Agama
Institusi yang berfungsi meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman baik dan buruk, salah atau benar, yang menentukan sistem kepercayaan seseorang hingga ikut berperan dalam menentukan sikap seseorang.
6. Faktor Emosional
Suatu sikap yang dilandasi oleh emosi yang fungsinya sebagai semacam penyaluran frustrasi atau pengalihan bentuk mekanisime pertahanan ego. Dapat bersifat sementara ataupun menetap (persisten/tahan lama). Contoh: Prasangka (sikap tidak toleran, tidak fair)

D. Perubahan Attitude
Attitude (sikap) dapat dibentuk dan dapat pula dirubah. Pembentukan dan perubahan memiliki hubungan keterkaitan yang sangat erat. Seperti halnya pembentukan attitude, perubahan attitude pun dapat dilakukan melalui empat cara yang telah disebutkan sebelumnya pada subbab pembentukan atiitude.
Perubahan Sikap dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu:
1. Sumber dari pesan
Sumber pesan dapat berasal dari: seseorang, kelompok, institusi. Dua ciri penting dari sumber pesan:
a) Kredibilitas
Semakin percaya dengan orang yang mengirimkan pesan, maka kita akan semakin menyukai untuk dipengaruhi oleh pemberi pesan. Dua aspek penting dalam kredibilitas, yaitu:
- Keahlian
- Kepercayaan
Tingkat kredibilitas berpengaruh terhadap daya persuasif. Bila kredibilitas tinggi maka daya persuasif tinggi. Sebaliknya, bila kredibilitas rendah maka daya persuatif akan rendah pula.
b) Daya Tarik
Kredibilitas masih perlu ditambah daya tarik agar lebih persuatif. Efektivitas daya tarik dipengaruhi oleh:
- daya tarik fisik
- menyenangkan
- kemiripan
2. Pesan (Isi pesan)
Pesan umumnya berupa kata-kata dan simbol-simbol lain yang menyampaikan informasi. Tiga hal yang berkaitan dengan isi pesan:
a. Usulan, merupakan suatu pernyataan yang kita terima secara tidak kritis. Pesan dirancang dengan harapan orang akan percaya, membentuk sikap, dan terhasut dengan apa yang dikatakan tanpa melihat faktanya. Contoh: iklan di TV.
b. Menakuti. Cara lain untuk membujuk adalah dengan menakut-nakuti. Jika terlalu berlebihan maka orang menjadi takut, sehingga informasi justru dijauhi.
c. Pesan Satu sisi dan dua sisi. Pesan satu sisi paling efektif jika orang dalam keadaan netral atau sudah menyukai suatu pesan. Pesan dua sisi lebih disukai untuk mengubah pandangan yang bertentangan.
3. Penerima Pesan
Beberapa ciri penerima pesan:
a. Influenceability
Sifat kepribadian seseorang tidak berhubungan dengan mudahnya seseorang untuk dibujuk, meski demikian:
- anak-anak lebih mudah dipengaruhi daripada orang dewasa
- orang berpendidikan rendah lebih mudah dipengaruhi daripada yang
berpendidikan tinggi
b. Arah Perhatian dan Penafsiran
Pesan akan berpengaruh pada penerima, tergantung dari persepsi dan penafsirannya. Yang terpenting adalah pesan yang dikirim ke tangan orang pertama, mungkin dapat berbeda jika info sampai ke penerima kedua.
c. Kekebalan (saat menerima info yang berlawanan)
Konsekuensi menerima pesan 1 sisi dan 2 sisi:
- Orang yang menerima, beberapa minggu kemudian kelihatan berbeda
pendapat sesuai posisinya
- Pesan yang berlawanan akan lebih efektif pada penerima pesan satu sisi
- Penerima pesan dua sisi lebih memiliki daya tahan terhadap pesan yang
berlawanan

E. Cognitive Consistency

Kognitif konsistensi merupakan keadaan pikiran di mana satu dari kepercayaan, sikap dan semua perilaku kompatibel dengan satu sama lain.
Teori konsistensi kognitif yang tampaknya mensyaratkan bahwa orang haruslah berpikir logis. Leon Festinger (1957) melahirkan teori disonansi kognitif, yang menyatakan bahwa motif yang kuat untuk mempertahankan konsistensi kognitif dapat menimbulkan irasional dan kadang-kadang mempengaruhi perilaku.
Sebagai contoh ketika sedang diet, satu hari Anda menghadapi sebuah hamburger, yang menghasilkan ketidaksesuaian antara sikap dan tingkah laku. Apa yang dapat Anda lakukan?
Saya tidak perlu diet. Mengubah sikap.
Saya sudah sering makan hamburger . Mengubah persepsi perilaku.
Hamburger sangat bergizi. Menambahkan perilaku yang sesuai.
Who cares about diets? Life is short! Meminimalkan pentingnya konflik.
Saya tidak punya pilihan untuk menolak Dianggap mengurangi pilihan


F. Cognitive Dissonance

Cognitive dissonance merupakan kondisi dimana seseorang memiliki keyakinan atau sikap yang bertentangan satu sama lainnya. Jika disonansi kognitif itu muncul, subjek termotivasi untuk mengurangi disonansi melalui perubahan perilaku atau kognisi.
Cognitive Dissonance (disonansi kognitif) juga diartikan sebagai masalah psikologis yang timbul karena adanya ketidak-ajegan (inconsistencies) dalam kognisi.
Tingkat dissonance erat kaitannya dengan derajat prioritas masing-masing orang. Contohnya, bila masalah dashboard dianggap masalah sepele, maka tingkat dissonance bisa diabaikan. Namun, saat membawa mobil anda pulang dan tetangga anda yang paham tentang mobil bertanya “Kenapa kamu membeli mobil itu, mobil itu kan mudah rusak?”, maka tingkat dissonance akan meningkat.
Setiap orang berusaha mengurangi cognitive dissonance. Karena itu, Cognitive dissonance menjadi salah satu motivator. Dalam contoh tadi, tingkat cognitive dissonance yang tinggi terhadap mobil tersebut mendorong konsumen mencari hal-hal yang bisa membenarkan keputusannya, sehingga dia yakin telah melakukan pembelian secara benar.
Tak heran banyak iklan justru ditujukan pada pembeli produk, agar mereka terbantu mengatasi cognitive dissonance, untuk meyakinkan tepatnya putusan mereka sehingga mau membeli produk itu lagi atau setidaknya merekomendasikan pada orang lain kelebihan produk tersebut. Cognitive dissonance meningkat jika konsumen melakukan pembelian yang tidak diinginkan atau jika konsumen merasa tidak puas, khususnya jika perasaan tidak puas sudah ada sebelum terjadi pembelian. Pada saat kita merasa tidak puas itulah muncul cognitive dissonance. Meskipun kita merasa puas, tetapi karena masih ada keraguan, maka tetap muncul cognitive dissonance. Jadi cognitive dissonance tidak sama dengan ketidakpuasan. Memang ketidakpuasan menyebabkan cognitive dissonance, tetapi konsumen bisa juga mengalami cognitive dissonance walau telah puas dengan produk yang dibelinya jika pikirannya tidak konsisten.

G. Self concept Theory

Diri menjadi fokus utama psikologi sosial karena diri membantu mengorganisasikan dan membimbing perilaku sosial kita. Konsep diri kita tidak hanya identitas atau atribut pribadi namun juga mencakup identitas sosial.
Konsep diri terbentuk akibat pengalaman interaksi dengan orang lain yaitu dengan menemukan apa yang orang lain pikirkan tentang diri individu tersebut. Ini yang disebut dengan penaksiran yang direfleksikan dan ini merupakan hal penting dalam pembentukan konsep diri. Penaksiran diri (reflected apprasial) menunjuk pada ide bahwa manusia menaksir dirinya sendiri dengan mereflksikan atau bercermin dari bagaimana orang menaksir dirinya “looking glass self”. Jadi hakekat konsep diri sesungguhnya merupakan membayangkan apa yang orang lain pikirkan tentang diri sendiri.
Konsep diri dapat didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya. Definisi yang lebih rinci lagi adalah sebagai berikut :
a. Konsep diri adalah keyakinan yang dimiliki individu tentang atribut (ciri-ciri sifat ) yang dimiliki (Brehm & Kassin, 1993).
b. Atau juga diartikan sebagai pengetahuan dan keyakinan yang dimilki individu tentang karakteristik dan ciri-ciri pribadinya (Worchel, 2000).
c. Definisi lain menyebutkan bahwa Konsep diri merupakan semua perasaan dan pemikiran seseorang mengenai dirinya sendiri. Hal ini meliputi kemampuan, karakter diri, sikap, tujuan hidup, kebutuhan dan penampilan diri
d. Those physical, social and psychological perceptions of ourselves that we have derived from experiences and our interaction with others (William D Brooks : 1974)
Seseorang dikatakan mempunyai konsep diri negatif jika ia meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Orang dengan konsep diri negatif akan cenderung bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Ia tidak melihat tantangan sebagai kesempatan, namun lebih sebagai halangan. Orang dengan konsep diri negatif, akan mudah menyerah sebelum berperang dan jika gagal, akan ada dua pihak yang disalahkan, entah itu menyalahkan diri sendiri (secara negatif) atau menyalahkan orang lain.
Sebaliknya seseorang dengan konsep diri yang positif akan terlihat lebih optimis, penuh percaya diri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialaminya. Kegagalan bukan dipandang sebagai kematian, namun lebih menjadikannya sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk melangkah ke depan. Orang dengan konsep diri yang positif akan mampu menghargai dirinya dan melihat hal-hal yang positif yang dapat dilakukan demi keberhasilan di masa yang akan datang.
Ada dua komponen dalam konsep diri yaitu komponen kognitif dan komponen afektif. Komponen kognitif disebut sebagai citra diri (self image) sedangkan komponen afektif adalah harga diri (self esteem).

Proses Pembentukan Konsep Diri
Konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan seorang manusia dari kecil hingga dewasa. Lingkungan, pengalaman dan pola asuh orang tua turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsep diri yang terbentuk. Sikap atau respon orang tua dan lingkungan akan menjadi bahan informasi bagi anak untuk menilai siapa dirinya. Oleh sebab itu, seringkali anak-anak yang tumbuh dan dibesarkan dalam pola asuh yang keliru dan negatif, atau pun lingkungan yang kurang mendukung, cenderung mempunyai konsep diri yang negatif. Hal ini disebabkan sikap orang tua yang misalnya : suka memukul, mengabaikan, kurang memperhatikan, melecehkan, menghina, bersikap tidak adil, tidak pernah memuji, suka marah-marah, dsb - dianggap sebagai hukuman akibat kekurangan, kesalahan atau pun kebodohan dirinya. Jadi anak menilai dirinya berdasarkan apa yang dia alami dan dapatkan dari lingkungan. Jika lingkungan memberikan sikap yang baik dan positif, maka anak akan merasa dirinya cukup berharga sehingga tumbuhlah konsep diri yang positif.
Konsep diri ini mempunyai sifat yang dinamis, artinya tidak luput dari perubahan. Ada aspek-aspek yang bisa bertahan dalam jangka waktu tertentu, namun ada pula yang mudah sekali berubah sesuai dengan situasi sesaat. Misalnya, seorang merasa dirinya pandai dan selalu berhasil mendapatkan nilai baik, namun suatu ketika dia mendapat angka merah. Bisa saja saat itu ia jadi merasa “bodoh”, namun karena dasar keyakinannya yang positif, ia berusaha memperbaiki nilai.
Dalam konsep diri ini terdapat beberapa unsur antara lain:
1. Penilaian diri merupakan pandangan diri terhadap:
• Pengendalian keinginan dan dorongan-dorongan dalam diri. Bagaimana kita mengetahui dan mengendalikan dorongan, kebutuhan dan perasaan-perasaan dalam diri kita.
• Suasana hati yang sedang kita hayati seperti bahagia, sedih atau cemas. Keadaan ini akan mempengaruhi konsep diri kita positif atau negatif.
• Bayangan subyektif terhadap kondisi tubuh kita. Konsep diri yang positif akan dimiliki kalau merasa puas (menerima) keadaan fisik diri sendiri. Sebaliknya, kalau merasa tidak puas dan menilai buruk keadaan fisik sendiri maka konsep diri juga negatif atau akan jadi memiliki perasaan rendah diri.
2. Penilaian sosial merupakan evaluasi terhadap bagaimana individu menerima penilaian lingkungan sosial pada diri nya. Penilaian sosial terhadap diri yang cerdas, supel akan mampu meningkatkan konsep diri dan kepercayaan diri. Adapun pandangan lingkungan pada individu seperti si gendut, si bodoh atau si nakal akan menyebabkan individu memiliki konsep diri yang buruk terhadap dirinya.
3. Konsep lain yang terdapat dalam pengertian konsep diri adalah self image atau citra diri, yaitu merupakan gambaran:
• Siapa saya, yaitu bagaimana kita menilai keadaan pribadi seperti tingkat kecerdasan, status sosial ekonomi keluarga atau peran lingkungan sosial kita.
• Saya ingin jadi apa, kita memiliki harapan-harapan dan cita-cita ideal yang ingin dicapai yang cenderung tidak realistis. Bayang-bayang kita mengenai ingin jadi apa nantinya, tanpa disadari sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokoh ideal yang yang menjadi idola, baik itu ada di lingkungan kita atau tokoh fantasi kita.
• Bagaimana orang lain memandang saya, pertanyaan ini menunjukkan pada perasaan keberartian diri kita bagi lingkungan sosial maupun bagi diri kita sendiri.
Konsep diri yang terbentuk pada diri juga akan menentukan penghargaan yang berikan pada diri. Penghargaan terhadap diri atau yang lebih dikenal dengan self esteem ini meliputi penghargaan terhadap diri sebagai manusia yang memiliki tempat di lingkungan sosial. Penghargaan ini akan mempengaruhi dalam berinteraksi dengan orang lain.

Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri
Berbagai faktor dapat mempengaruhi proses pembentukan konsep diri seseorang. Secara umum konsep diri dipengaruhi oleh orang lain dan kelompok rujukan. Manusia mengenal dirinya secara kodrati didahului oleh pengenalan terhadap orang lain terlebih dahulu, namun tidak semua orang mempunyai pengaruh yang sama. Yang paling berpengaruh adalah orang lain yang paling dekat dengan diri kita yang terbagi 3 golongan. Golongan pertama disebut sebagai significant others yaitu orang tua dan saudara). Golongan ke dua disebut sebagai affective others yaitu orang lain yang memiliki ikatan emosional seperti sahabat karib. Golongan ke tiga disebut sebagai generalized otheri yaitu keseluruhan dari orang-orang yang dianggap memberikan penilaian terhadap diri sendiri.
Sementara kelompok rujukan mempengaruhi konsep diri karena ikatan-ikatan norma-norma yang dilekatkan pada diri manusia. Sehingga konsep diri terbentuk karena penyesuain diri dengan norma-norma yang berlaku dalam kelompok tersebut.
Namun secara detail konsep diri dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti tersebut di bawah ini :
• Pola asuh orang tua
Pola asuh orang tua seperti sudah diuraikan di atas turut menjadi faktor signifikan dalam mempengaruhi konsep diri yang terbentuk. Sikap positif orang tua yang terbaca oleh anak, akan menumbuhkan konsep dan pemikiran yang positif serta sikap menghargai diri sendiri. Sikap negatif orang tua akan mengundang pertanyaan pada anak, dan menimbulkan asumsi bahwa dirinya tidak cukup berharga untuk dikasihi, untuk disayangi dan dihargai; dan semua itu akibat kekurangan yang ada padanya sehingga orang tua tidak sayang
• Kegagalan
Kegagalan yang terus menerus dialami seringkali menimbulkan pertanyaan kepada diri sendiri dan berakhir dengan kesimpulan bahwa semua penyebabnya terletak pada kelemahan diri. Kegagalan membuat orang merasa dirinya tidak berguna.
• Depresi
Orang yang sedang mengalami depresi akan mempunyai pemikiran yang cenderung negatif dalam memandang dan merespon segala sesuatunya, termasuk menilai diri sendiri. Segala situasi atau stimulus yang netral akan dipersepsi secara negatif. Misalnya, tidak diundang ke sebuah pesta, maka berpikir bahwa karena saya “miskin” maka saya tidak pantas diundang. Orang yang depresi sulit melihat apakah dirinya mampu survive menjalani kehidupan selanjutnya. Orang yang depresi akan menjadi super sensitif dan cenderung mudah tersinggung atau “termakan” ucapan orang
• Kritik internal
Terkadang, mengkritik diri sendiri memang dibutuhkan untuk menyadarkan seseorang akan perbuatan yang telah dilakukan. Kritik terhadap diri sendiri sering berfungsi menjadi regulator atau rambu-rambu dalam bertindak dan berperilaku agar keberadaan kita diterima oleh masyarakat dan dapat beradaptasi dengan baik


H. Persepsi
Persepsi adalah proses dimana kita mengorganisasi dan menafsirkan pola stimulus ini dalam lingkungan.
Melalui persepsilah manusia memandang dunianya. Apakah dunia terlihat “berwarna” cerah, pucat, atau hitam, semuanya adalah persepsi manusia yang bersangkutan. Persepsi harus dibedakan dengan sensasi [sensation]. Sensasi merupakan fungsi fisiologis, dan lebih banyak tergantung pada kematangan dan berfungsinya organ-organ sensoris. Sensasi meliputi fungsi visual, audio, penciuman dan pengecapan, serta perabaan, keseimbangan dan kendali gerak. Kesemuanya inilah yang sering disebut indera.

Jadi dapat dikatakan bahwa sensasi adalah proses manusia dalam dalam menerima informasi sensoris [energi fisik dari lingkungan] melalui penginderaan dan menerjemahkan informasi tersebut menjadi sinyal-sinyal “neural” yang bermakna. Misalnya, ketika seseorang melihat (menggunakan indera visual, yaitu mata) sebuah benda berwarna merah, maka ada gelombang cahaya dari benda itu yang ditangkap oleh organ mata, lalu diproses dan ditransformasikan menjadi sinyal-sinyal di otak, yang kemudian diinterpretasikan sebagai “warna merah”.

Berbeda dengan sensasi, persepsi merupakan sebuah proses yang aktif dari manusia dalam memilah, mengelompokkan, serta memberikan makna pada informasi yang diterimanya. Benda berwarna merah akan memberikan sensasi warna merah, tapi orang tertentu akan merasa bersemangat ketika melihat warna merah itu, misalnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, secara sengaja atau tidak, kita akan lebih memperhatikan stimulus tertentu dibandingkan yang lainnya. Artinya, kita menjadikan suatu informasi menjadi figure, dan informasi lainnya menjadi ground. Salah satu fenomena dalam psikologi yang menggambarkan prinsip ini adalah, orang cenderung mendengar apa yang dia ingin dengar, dan melihat apa yang ingin dia lihat.
Di samping faktor-faktor teknis seperti kejelasan stimulus [mis. suara yang jernih, gambar yang jelas], kekayaan sumber stimulus [mis. media multi-channel seperti audio-visual], persepsi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis. Faktor psikologis ini bahkan terkadang lebih menentukan bagaimana informasi / pesan / stimulus dipersepsikan.

Faktor yang sangat dominan adalah faktor ekspektansi dari si penerima informasi sendiri. Ekspektansi ini memberikan kerangka berpikir atau perceptual set atau mental set tertentu yang menyiapkan seseorang untuk mempersepsi dengan cara tertentu. Mental set ini dipengaruhi oleh beberapa hal.

Ketersediaan informasi sebelumnya; ketiadaan informasi ketika seseorang menerima stimulus yang baru bagi dirinya akan menyebabkan kekacauan dalam mempersepsi. Oleh karena itu, dalam bidang pendidikan misalnya, ada materi pelajaran yang harus terlebih dahulu disampaikan sebelum materi tertentu. Seseorang yang datang di tengah-tengah diskusi, mungkin akan menangkap hal yang tidak tepat, lebih karena ia tidak memiliki informasi yang sama dengan peserta diskusi lainnya. Informasi juga dapat menjadi cues untuk mempersepsikan sesuatu.

Kebutuhan; seseorang akan cenderung mempersepsikan sesuatu berdasarkan kebutuhannya saat itu. Contoh sederhana, seseorang akan lebih peka mencium bau masakan ketika lapar daripada orang lain yang baru saja makan.

Pengalaman masa lalu; sebagai hasil dari proses belajar, pengalaman akan sangat mempengaruhi bagaimana seseorang mempersepsikan sesuatu. Pengalaman yang menyakitkan ditipu oleh mantan pacar, akan mengarahkan seseorang untuk mempersepsikan orang lain yang mendekatinya dengan kecurigaan tertentu. Contoh lain yang lebih ekstrim, ada orang yang tidak bisa melihat warna merah [dia melihatnya sebagai warna gelap, entah hitam atau abu-abu tua] karena pernah menyaksikan pembunuhan. Di sisi lain, ketika seseorang memiliki pengalaman yang baik dengan bos, dia akan cenderung mempersepsikan bosnya itu sebagai orang baik, walaupun semua anak buahnya yang lain tidak senang dengan si bos.

Prinsip-prinsip persepsi

Sebagian besar dari prinsip-prinsip persepsi merupakan prinsip pengorganisasian berdasarkan teori Gestalt. Teori Gestalt percaya bahwa persepsi bukanlah hasil penjumlahan bagian-bagian yang diindera seseorang, tetapi lebih dari itu merupakan keseluruhan [the whole]. Teori Gestalt menjabarkan beberapa prinsip yang dapat menjelaskan bagaimana seseorang menata sensasi menjadi suatu bentuk persepsi.

Gambar berikut menunjukkan bahwa persepsi manusia bukanlah hasil penjumlahan unsur-unsurnya [segitiga terbalik ditambah bujursangkar biru yang terpotong], tetapi seseorang dapat melihat ada segitiga putih di tengah walau tanpa garis yang membentuk segitiga tersebut.




Prinsip persepsi yang utama adalah prinsip figure and ground. Prinsip ini menggambarkan bahwa manusia, secara sengaja maupun tidak, memilih dari serangkaian stimulus, mana yang menjadi fokus atau bentuk utama [=figure] dan mana yang menjadi latar [=ground].

Contoh gambar gadis dan nenek, menunjukkan bahwa seseorang dapat menjadikan bentuk gadis sebagai figure, dan detil yang lain sebagai ground, atau sebaliknya.


Beberapa contoh visual lain dapat dilihat berikut ini.





Dalam kehidupan sehari-hari, secara sengaja atau tidak, kita akan lebih memperhatikan stimulus tertentu dibandingkan yang lainnya. Artinya, kita menjadikan suatu informasi menjadi figure, dan informasi lainnya menjadi ground. Salah satu fenomena dalam psikologi yang menggambarkan prinsip ini adalah, orang cenderung mendengar apa yang dia ingin dengar, dan melihat apa yang ingin dia lihat.
Di samping faktor-faktor teknis seperti kejelasan stimulus [mis. suara yang jernih, gambar yang jelas], kekayaan sumber stimulus [mis. media multi-channel seperti audio-visual], persepsi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis. Faktor psikologis ini bahkan terkadang lebih menentukan bagaimana informasi / pesan / stimulus dipersepsikan.

Faktor yang sangat dominan adalah faktor ekspektansi dari si penerima informasi sendiri. Ekspektansi ini memberikan kerangka berpikir atau perceptual set atau mental set tertentu yang menyiapkan seseorang untuk mempersepsi dengan cara tertentu. Mental set ini dipengaruhi oleh beberapa hal.

Ketersediaan informasi sebelumnya; ketiadaan informasi ketika seseorang menerima stimulus yang baru bagi dirinya akan menyebabkan kekacauan dalam mempersepsi. Oleh karena itu, dalam bidang pendidikan misalnya, ada materi pelajaran yang harus terlebih dahulu disampaikan sebelum materi tertentu. Seseorang yang datang di tengah-tengah diskusi, mungkin akan menangkap hal yang tidak tepat, lebih karena ia tidak memiliki informasi yang sama dengan peserta diskusi lainnya. Informasi juga dapat menjadi cues untuk mempersepsikan sesuatu.

Kebutuhan; seseorang akan cenderung mempersepsikan sesuatu berdasarkan kebutuhannya saat itu. Contoh sederhana, seseorang akan lebih peka mencium bau masakan ketika lapar daripada orang lain yang baru saja makan.

Pengalaman masa lalu; sebagai hasil dari proses belajar, pengalaman akan sangat mempengaruhi bagaimana seseorang mempersepsikan sesuatu. Pengalaman yang menyakitkan ditipu oleh mantan pacar, akan mengarahkan seseorang untuk mempersepsikan orang lain yang mendekatinya dengan kecurigaan tertentu. Contoh lain yang lebih ekstrim, ada orang yang tidak bisa melihat warna merah [dia melihatnya sebagai warna gelap, entah hitam atau abu-abu tua] karena pernah menyaksikan pembunuhan. Di sisi lain, ketika seseorang memiliki pengalaman yang baik dengan bos, dia akan cenderung mempersepsikan bosnya itu sebagai orang baik, walaupun semua anak buahnya yang lain tidak senang dengan si bos.

Contoh gambar yang menjelaskan faktor-faktor di atas adalah berikut ini.

Perhatikan gambar berikut, gambar apa yang Anda lihat?







Apakah Anda melihat gambar lumba-lumba? Apakah setelah diberikan ada cue / tanda bahwa ada gambar lumba-lumba, Anda kemudian baru bisa melihatnya?


Faktor psikologis lain yang juga penting dalam persepsi adalah berturut-turut: emosi, impresi dan konteks.

Emosi; akan mempengaruhi seseorang dalam menerima dan mengolah informasi pada suatu saat, karena sebagian energi dan perhatiannya [menjadi figure] adalah emosinya tersebut. Seseorang yang sedang tertekan karena baru bertengkar dengan pacar dan mengalami kemacetan, mungkin akan mempersepsikan lelucon temannya sebagai penghinaan.

Impresi; stimulus yang salient / menonjol, akan lebih dahulu mempengaruhi persepsi seseorang. Gambar yang besar, warna kontras, atau suara yang kuat dengan pitch tertentu, akan lebih menarik seseorang untuk memperhatikan dan menjadi fokus dari persepsinya. Seseorang yang memperkenalkan diri dengan sopan dan berpenampilan menarik, akan lebih mudah dipersepsikan secara positif, dan persepsi ini akan mempengaruhi bagaimana ia dipandang selanjutnya.

Konteks; walaupun faktor ini disebutkan terakhir, tapi tidak berarti kurang penting, malah mungkin yang paling penting. Konteks bisa secara sosial, budaya atau lingkungan fisik. Konteks memberikan ground yang sangat menentukan bagaimana figure dipandang. Fokus pada figure yang sama, tetapi dalam ground yang berbeda, mungkin akan memberikan makna yang berbeda.





I. Impression Formation
Pengetahuan kita tentang dan harapan kita atas orang-orang lain pertama kali ditentukan oleh kesan yang kita bentuk dari mereka. Jika dua orang betemu, meski hanya sekejap, mereka saling membentuk kesan satu sama lain. Dalam hubungan selanjutnya, mereka membentuk kesan lebih mendalam yang menentukan perilaku mereka satu sama lain, apakah mereka akan bekerja sama, dan sebagainya. Orang menggunakan informasi apa saja yang dapat diperoleh guna membentuk kesan terhadap orang lain, untuk menilai kepribadian serta hipotesis mereka tentang macam orang yang bagaimana mereka itu.
Orang cenderung membentuk kesan panjang lebar atas orang lain berdasarkan informasi terbatas. hanya dengan melihat seseorang atau sebuah potret selama beberapa menit saja, orang sudah cenderung menilai sebagian besar karakteristik orang tersebut. Meski biasanya individu tidak terlalu percaya pada pendapat yang dibentuk dengan cara demikian, namun mereka umumnya bersedia menilai inteligensia, usia, latar belakang, ras, agama, tingkat pendidikan, kejujuran, kehangatan orang lain dan sebagainya. Mereka juga menceritakan seberapa besar rasa suka mereka terhadap seseorang, jika mereka telah mengenalnya lebih jauh, dan berapa besar rasa suka mereka terhadap orang itu sekarang.
Aspek kesan pertama yang paling penting dan kuat adalah evaluasi. Apakah kita menyukai atau membenci seseorang. Berapa besar rasa suka atau benci kita terhadap orang tersebut. Kesan kita saat itu dapat tersusun atas berbagai dimensi lain; dia mungkin kelihatan bersahabat, senang mengobrol, dan ringan tangan. akan tetapi, semua ciri khusus ini secara fundamental terikat pada pernyataan apakah kita menyukainya atau tidak.


J. Atribusi
Membentuk kesan tentang orang lain merupakan salah satu kegiatan utama dalam interaksi sosial. Tugas utama yang kedua adalah memahami makna dan sebab perilaku mereka. Makna dan perilaku itu seringkali bermakna ganda. Misalnya, seorang atlit terkenal mempromosikan sereal untuk makan pagi di televisi. Mengapa dia melakukan hal itu? Apakah memang dia menyukainya? Atau apakah ia melakukan hal itu karena uang?
Kasus di atas menimbulkan masalah atribusi. Penelitian tentang proses atribusi telah menjadi pusat perhatian dalam psikologi sosial; tujuannya adalah menemukan aturan yang kita gunakan dan kesalahan yang kita lakukan ketika mencoba menafsirkan perilaku (Heider, 1958;Kelly, 1967).
Atribusi dapat diartikan proses bagaimana kita mencoba menafsirkan dan mencoba menjelaskan perilaku orang lain, yaitu untuk melihat sebab tindakan mereka. Tugas atribusi yang utama adalah memutuskan apakah tindakan seseorang harus dihubungkan dengan sebab disposisi (kepribadian atau sikap orang tersebut) atau pada sebab situasional (kekuatan sosial atau kekuatan eksternal lainnya).
Orang-orang tampaknya berpatokan pada kaidah tertentu pada waktu membuat atribusi. Kaidah kovarians menyatakan bahwa perilaku berkaitan dengan variabel yang tampaknya berkovari (ada secara bersama-sama) menurut kriteria kekhasan, keajekan, dan konsensus. Menurut teori pengabaian, kita cenderung mengabaikan peran sebab tertentu jika ada sebab lain yang tampaknya masuk akal. Namun, semua kaidah ini tidak selalu digunakan dengan benar. khususnya, kita cenderung memberi bobot terlalu berat pada faktor disposisi dan sedikit sekali pada faktor situasional. Bias ini disebut dengan kesalahan atribusi yang mendasar (fundamental attribution error).
Banyak prinsip pengolahan skema dan atribusi dapat diterapkan pada proses persepsi diri. Misalnya, orang adakalanya melakukan kesalahan atribusi mendasar tentang perilaku mereka sendiri, walaupun bias disposisi tampaknya lebih kuat pada mereka dalam menilai perilaku orang lain.

K. Daya Tarik

Dari seluruh sikap kita,yang terpenting mungkin adalah sikap kita terhadap orang lain. Mungki tidak terlalu berlebihan bila dikatakan bahwa memupuk hubungan pribadi merupakan prioritas utama bagi banyak orang di sepanjang waktu. Oleh karena itu, para pakar psikologi sosial telah lama tertarik pada faktor yang menimbulakan daya tarik/kesukaan antarpribadi.
Hal-hal berikut adalah penentu yang menimbulkan daya tarik antarpribadi:
1. Kedekatan
Orang yang dekat secara fisik dengan kita cenderung lebih akrab dan seringkali, secara kebetulan, mempunyai kesamaan latar belakang atau minat dengan kita. Teori pertukaran sosial menyatakan bahwa orang yang dekat akan lebih mudah ditemukan untuk berinteraksi, sehingga biasanya kerugian hubungan lebih kecil. Menurut teori kesimbangan kognitif, kita akan mengalami tekanan psikologik untuk menyukai orang yang berinteraksi dengan kita.
2. Keakraban
Keakraban juga meningkatkan rasa suka. eksposur yang berulang pasti meningkatkan pengenalan kita tentang seseorang, dan mungkin ini adalah langkah awal yang berguna untuk menyukainya. Bila orang semakin dikenal, mereka juga semakin dapat diduga. Semakin sering kita melihat tetangga baru di lingkungan rumah kita, Semakin banyakyang kita pelajari tentang dia dan semakin baik prediksi yang dapat kita buat tentang bagaimana ia akan berprilaku di halaman rumah dan di pertemuan wilayah. Akibatnya kita merasa lebih nyaman bila dia hadir.
3. Persamaan
Kita cenderung menyukai orang yang mempunyai kesamaan sikap, nilai, minat, latar belakang, dan kepribadian dengan kita. Dalam kencan dan pernikahan, kecenderungan memilih pasangan yang mempunyai kesamaan disebut ”prinsip kesesuaian”. Makna penting kesamaan dapat dijelaskan melalui ganjaran, keseimbangan kognitif dan teori nilai-ekspetasi tentang pengambilan keputusan.

L. Love
Cinta dan balada kasih sudah sejak lama menjadi topik favorit para penyair dan pengarang lagu. Baru akhir-akhir ini para peneliti mulai menggunakan berbagai piranti psikologis untuk mempelajari gejala ini secara lebih sistematis.
Para peneliti telah mengidentifikasikan enam cara yang biasa digunakan orang untuk mendefinisikan kata ini (Lasswell & Lobsenz, 1980; Lee, 1983). Bentuk-bentuk cinta ini merupakan bentuk-bentuk yang murni; biasanya orang memberikan definisi yang merupakan kombinasi lebih dari satu bentuk murni.
1. Cinta Romantik. Cinta yang ditandai dengan pengalaman-pengalaman emosional.
2. Cinta Memiliki. Cinta yang mengakibatkan orang yang mengalaminya menjadi sangat tergantung pada orang yang dicintai tersebut.
3. Cinta Kawan Baik. Cinta yang mengutamakan keakraban yang menyenangkan.
4. Cinta Pragmatik. Cinta yang menuntut adanya pasangan yang serasi dan hubungan yang berjalan baik.
5. Cinta Altruistik. Cinta yang ditandai adanya perhatian, keinginan untuk selalu memberikan sesuatu, dan selalu siap memaafkan pasangannya.
6. Cinta Main-main. Dalam Bentuk cinta ini, yang paling penting adalah strategi, dan keterikatan biasanya dihindari.
Salah satu peneliti pertama yang mempelajari cinta romantis adalah Zick Rubin (1970,1973). Dia merasa tertarik untuk mempelajari hubungan antara cinta dan rasa suka. Salah satu pandangan mengatakan bahwa cinta adalah hanya bentuk rasa suka yang amat kuat. Sejalan dengan sudut pandang ini, perasaan tertarik yang positif mempunyai rentang sepanjang suatu kontinuum, mulai dari rasa suka yang lemah, sampai yang kuat.
Sedangkan pandangan yang berlawana dengan yang pertama tadi, yang dianggap lebih unggul oleh Rubin, mengatakan bahwa cinta dan rasa suka memiliki unsur-unsur yang berbeda dan merupakan dua dimensi yang berlawanan. Pandangan ini nampaknya sesuai dengan pepatah kuno yang mengatakan bahwa bisa saja seseorang menyukai orang lain tapi tidak tidak merasa jatuh cinta kepadanya.
Skala cinta Rubin mengkonsepkan cinta sebagai suatu sikap terhadap orang lain, sebagai suatu himpunan pikiran yang khusus tentang orang yang dicintai.. Menurut rubin, ada tiga tema yang tercermin dalam pernyataan-pernyataan dalam skalanya. Tema pertama, yang disebut oleh Rubin sebagai kasih sayang, merupakan perasaan membutuhkan dan mendesak. Contoh pernyataan dalam tema ini adalah, ” Rasanya sulit bagi saya untuk hidup tanpa.....”. Pernyataan ini mencerminkan kesadaran seseorang tentang ketergantungannya pada orang lain untuk mendapatkan ganjaran yang berharga. Tema yang kedua adalah keinginan untuk memberi perhatian pada seseorang seperti tergambar dalam pernyataan, ” Saya ingin melakukan segala sesuatu untuk....”. Hasrat untuk mengutamakan kesejahteraan seseorang dan peka terhadap kebutuhan-kebutuhannya merupakan inti dari tema ini. Tema ketiga menekankan pada rasa percaya dan pengungkapan diri. Gagasan cinta ini berlawanan dengan Skala Rasa Suka, yang berkaitan dengan keyakinan bahwa seseorang itu menyenangkan, cerdas, mudah menyesuaikan diri, memiliki daya timbang yang baik, dan lain-lain.
Salah satu gambaran yang sering digunakan sebagai titik acuan untuk membedakan hubungan cinta dan persahabatan adalah pengalaman gejala fisik. Untuk mempelajari hal ini, Kanin, Davidson, dan Scheck (1970) meminta 679 mahasiswa untuk menilai perasaan yang mereka alami dalam pengalaman cinta yang paling akhir secara berurutan sesuai dengan kekuatannya.
Perasaan yang paling sering muncul adalah adanya perasaan sejahtera yang kuat (79%) dan merasa sulit memusatkan pikiran (37%). Perasaan-perasaan yang lain adalah perasaan seperti melambung keawan (29%), ingin lari, lompat dan berteriak (22%), merasa gelisah sebelum berkencan (22%), dan perasaan bingung dan senang (20%). Adakalanya juga muncul sensasi-sensasi jasmaniah yang kuat, seperti tangan menjadi dingin, tidak enak perut, atau geli di punggung (20%) dan insomia (12%).
Para peneliti berhasil menemukan adanya perbedaan isi pengalaman perasaan antara pria dan wanita, dimana wanita lebih sering mengalami emosi yang kuat. Dion dan Dion (1973), melalui hasil penelitiannya, turut memperkuat pendapat tadi: Kaum wanita lebih sering mengalami euforia yang berkaitan dengan cinta. Apakah hasil ini mencerminkan perbedaan jenis kelamin aktual dalam pengalaman cinta atau karena keinginan untuk mengungkapkan diri yang lebih besar pada wanita, belum diketahui.